Latest Entries »

I Owe You, Hot Choco!

Hot chocolate-nya satu, mbak!” kataku pada barista Starbucks, sebuah gerai kopi ternama yang merupakan francaise dari Amerika. Seperti biasa, semua bangku dan sofa terisi penuh. Aku menghela nafasku. Tak apa. Aku memang nggak berencana untuk menyambungkan koneksi internetku disini. Aku memilih untuk cepat pulang dan go online di rumah. Si barista ini masih menungguku sambil tersenyum. Ah, iya. Aku lupa.

“Yang grande aja, mbak. Take away, yah!” aku menambahkan. Mungkin tadi dikiranya aku masih bingung dengan pilihanku.

Whip cream?” tanya si barista lagi. Aku mengangguk, ia langsung memproses hot choco-ku. Sambil menunggu pesananku jadi, ku keluarkan ponselku yang baru saja bergetar. Ada new chat yang masuk.

Dean : Jadi? Aku udah di jalan pulang, nih! ;)

Aku tersenyum. Rasanya seperti ada ledakan terpendam dalam dadaku yang mendesak ingin dikeluarkan. Tapi tak mungkin di sini, ini tempat umum!

Me : Jadi kok! Lagi nunggu pesenan.. Chat you later!

Tak lama pesananku selesai. Aku tertawa kecil sambil berharap – harap cemas. Aku mengingat lagi percakapanku dengannya dua hari yang lalu. Tes kekompakan kami, apakah kami sepikiran atau tidak.

Dean : Mau ngetes sesuatu nggak?

Me : Ngetes? Ngetes apaan?

Dean : Ngetes kita beneran kompak atau ga.. rofl. Tapi beneran lho! Aku penasaran!

Jariku berhenti mengetikkan balasan. Dean memang tak bisa ditebak, deh! Apalagi caranya kali ini? Pasti ujung dari tes ini bakal membuat aku tersipu malu lagi. Dia memang lelaki yang tidak biasa kuhadapi. Bukan tipe lelaki yang bisa jadi bahanku untuk berlatih menahan gombalan maut lelaki. Dean ini berbeda. Dia tidak gombal, tidak. Tidak berkata – kata romantis. Dia justru cenderung cuek, kata – katanya sarkastis, terlalu realistis, tapi entah kenapa aku nggak bisa menahan hatiku untuk lumer karena kelakuannya. Kuberanikan untuk mengetikkan balasan pada laptopku.

Me : What is it? Tell me! You got me curious, too! Lol

Dean : Go to starbucks two days from now, buy something, but don’t tell me..

Me : So? What’s that suppose to mean, D?

Dean : Hehe.. Kita liat.. Apa kita membeli barang yang sama. Detil dan ukuran! How?

Me : Buat apa tes ginian?

Dean : Menurut kita, kita cocok. Tes aja.. Kalo beneran cocok, pasti pesennya sama..

Me : This is silly.. Bukan gara – gara beda barang, kita langsung nggak cocok.

1 menit.. 2 menit.. tidak ada balasan. Aku mulai cemas. Apakah aku salah omong? Apa aku menyinggung hatinya? Ah, mana mungkin! Dia bukan pria yang mudah tersinggung hanya karena soal sepele.

Dean : T..

Me : Yes?

Dean : Just do it, okay? It will be great if we have the same things. It will be a great coincidence!

Me : You know what? Aku nggak pernah berhasil menolak permintaanmu. Deal!

* * * *

Malam itu, tidurku gelisah. Aku harap – harap cemas. Aku mencoba berpikir, apa yang harus kubeli nantinya. Aku tau kita berdua pecinta kopi. Tapi entah apa yang harus kubeli. Sampai akhirnya sore ini, tiba – tiba aku ingin sekali minum hot choco milik Starbucks. Jadi, kuharap ini merupakan pertanda yang baik. Aku benar – benar nggak mau tes ini gagal. Meskipun menurutku, tes ini sangat konyol. Tapi Dean benar. Akan menyenangkan sekali jikalau aku dan dia bisa membeli barang yang sama, akan menjadi kebetulan yang luar biasa.

Tanpa terasa, aku sudah sampai di rumah. Segera kulangkahkan kakiku ke kamar, menyalakan laptopku, lalu duduk. Kukeluarkan ponselku, aku mau memberitahu Dean bahwa aku sudah di rumah. Tapi baru saja aku mau mengetikkan chatku, sudah masuk chat darinya.

Dean : udah sampe? I’m waiting..

Me : Baru aja mau bilang. Udah di kamar, nih! Bentar lagi online skype ya ;)

Dean : See you, cake!

Aku tertegun. Cake. Lagi – lagi Dean memanggilku dengan sebutan itu. Itu sebutan yang spesial darinya. Dulu aku sempat protes dengan panggilannya itu yang terkesan merendahkan aku. Ingat istilah bahasa Inggris “It’s a piece of cake” yang berarti merupakan hal sepele yang mudah diatasi. Berarti, cake itu sepele. Tapi tidak menurut Dean. Menurutnya, cake itu indah, manis, namun kompleks. Kue apapun pastinya kompleks, sukar dibuat, melewati banyak step yang harus teliti ketika dikerjakan. Begitu Dean memberitahuku soal definisinya, hatiku lagi – lagi semaput. Gombalkah dia? Aku nggak merasa dia gombal. Menurutmu bagaimana?

Tak lama, aku sudah online pada aplikasi skype di laptopku. Dean segera membuka koneksi webcam skype denganku. Kutatap wajahnya. Hatiku serasa hangat. Teduh sekali rasanya menatap wajahnya yang tenang itu. Aku tersenyum. Dibalasnya senyumku, yang membuat matanya hanya terlihat seperti segaris hitam crayon. Dia memang menawan.

Aku melirik segelas hot choco yang sudah siap di sisi laptopku. Nafasku tiba – tiba terasa berat seolah ini adalah ujian yang sukar. Aku tersenyum, mencoba memendam kekhawatiranku. Dean terdiam sambil memandangiku.

“Kenapa kok gitu ngeliatnya? Risih..” kataku padanya. Dia tertawa lagi sambil menggelengkan kepala.

“Si kue kalo senyum rasanya sejuk di hati..” katanya pelan, tapi terdengar di speaker laptopku. Apa katanya? Si kue kalo senyum rasanya sejuk di hati. Apa? Astaga, rasanya jantungku harus kuasuransikan tiap kali bersama Dean. Pria satu ini benar – benar menguji kekuatan jantungku.

“Siapa kue?” tanyaku pura – pura tak tahu. Ah, bodoh sekali aku! Pertanyaan itu malah bisa memancingnya semakin memperparah lumeran hatiku.

No one! Eh, ayo ah, show me what you bought!” Dean tersenyum, namun sorot matanya misterius. Aku terdiam. Nyengir sebentar namun tanganku meraih gelas yang berada di sisi laptopku. Mungkin aku masih bisa memanjaatkan sedikit doa.

Ya, Tuhanku. Aku tau aku sering sekali mempermainkan pria yang suka adu gombal, tapi, Tuhan.. Kali ini sepertinya aku Kau hukum.. Lelaki ini sungguh berbeda.. Seandainya saja, Tuhan, apa yang ku beli sama dengan miliknya, pasti akan indah sekali.. Seandainya saja itu boleh terjadi, ya, Tuhan..

I buy..” aku menghela nafas, “Hot choco with whip cream. A grande one..” kutunjukan gelas yang berisi minumanku itu. Dean terkejut. Dia terdiam. Oke, sekarang aku panik. Pasti dia tidak membeli itu. Pasti dia membeli jenis kopi lainnya. Mengetahui kami tidak kompak itu sangat mengecewakan.

How could you buy that?” tanyanya. Matanya menatapku tajam. Lidahku mendadak kelu. Kenapa aku bisa membelinya? Karena memang tadi sore, inilah yang ingin kuminum. Jika aku mengatakan hal itu, apakah akan membuat Dean semakin ketus? Sudah kubilang, idenya kali ini konyol.

How could you buy that, T?” tanya Dean sekali lagi. Nadanya semakin ketus dan menyelidik. Kutangkap sedikit kemarahan di dalamnya. Benarkah itu?

“Aku.. Aku.. emang tadi pengen minum ini..” jawabku juga akhirnya. Dean terperangah mendengar jawabanku.

“Bukannya aku bilang, pikirkan? Kenapa malah karena keinginan? Kamu lupa?” tanya Dean bertubi – tubi. Nggak! Tentu saja aku ingat, Dean! Aku nggak pernah melupakan satu katapun yang pernah terucap dari bibirmu. Aku selalu memenuhi otakku dengan perkataan – perkataanmu!

I remember! Kamu kenapa, sih? Kalo nggak sama ya udah.. Bukannya aku udah bilang that this is silly! Aku udah pikirin mau beli apa, tapi tadi tiba – tiba pengen beli hot choco. Ya udah, aku beli itu! Kenapa juga gara – gara ginian, kamu jadi ketus, marah – marah lagi!” jawabku sewot. Hatiku sedih, sesungguhnya. Aku memang berharap kalau aku dan Dean memang secocok itu. Sepikiran. Satu hati. Alangkah bahagianya aku, jika benar. Tapi ternyata, begini terasa lebih sakit.

Tak terasa air mataku malah menetes. Apalagi Dean yang terdiam setelah ocehanku, membuat mataku terasa sangat panas dan ingin mengeluarkan air seperti aliran sungai. Aku terisak pelan. Tak kusangka ternyata ini menjadi pertengkaran pertamaku dengan Dean. Hanya karena hal sepele! Hanya karena kami tidak membeli minuman yang sama di Starbucks! Come on! This is unfair!

Those tears hurt me, cake..” kata Dean tiba – tiba. Aku tersentak. Kutatap matanya lewat kamera webcam.

This is our first fight..” kataku pelan. Kuharap Dean tak mendengarnya. Tapi ternyata Dean tertawa mendengar kata – kataku. Sialnya, microphone laptopku sangat sensitif dan menyampaikan kalimatku barusan pada Dean. D*mn!

Fight?” Dean tertawa terbahak – bahak, sampai membuatnya memegang perutnya seolah perkataanku barusan sangat lucu. What so funny about?

“Ya aku kan udah bilang kalo tes ini konyol, Dean! Tapi kamu ngotot, kan.. Ternyata sekarang kita ketahuan nggak kompak, kamu jadi marahin aku..” kataku pelan, kuusap airmataku. Tapi tak disangka, Dean berhenti tertawa.

“Kata siapa kita nggak kompak?” tanya Dean tiba – tiba. Aku mengerutkan keningku. Jelas – jelas dia memarahiku karena aku beli hot choco. Sekarang dia malah tanya seolah kami kompak.

I bought just the same with you, cake..” Dean mengatakannya sambil tersenyum Dia mengangkat sebuah gelas. Apa? Apa mataku salah lihat?

Dean tertawa kecil, “A whipped cream hot choco, grande size..” katanya. Dean nyengir menatapku yang cengo dengan sukses.

Pria ini!! Benar – benar mengguncang kekuatanku, aku semaput untuk bisa menahan luapan kebahagiaan yang entah bagaimana harus kusalurkan. Aku hanya dapat tertawa sampai perutku sakit dan mataku mengeluarkan air. Dean menatapku masih dengan senyumannya yang khas dan tatapan matanya yang hangat.

Ternyata, feelingku sore ini benar. Itulah yang menuntun pikiranku untuk bisa satu dengan pikiran Dean. Aku puas, bahagia, takjub, dan banyak rasa lain yang tak bisa kujelaskan dengan kata – kata.

“Kamu bener.. Rasanya luar biasa!!” seruku. Senyuman di wajah Dean hilang.

“Kenapa?” tanyaku.

“Baru sekali ini satu pikiran, pemahaman, pandangan dengan seseorang, cake..” kata Dean tegas. Aku tersenyum. Yeah, entah kenapa aku memang seolah sangat melengkapi. Like he is my missing puzzle piece.

I’m waiting to meet you soon.. Cake’s smile should be mine soon..” Dean mengatakannya sambil menatap mataku. Aku lemas, secara tidak langsung berarti…? Ya ampun.. Secara tidak langsung, Dean mengatakan bahwa dia menginginkanku.

“Masih banyak waktu sampai kamu pulang ke Jakarta..” kataku. Dean tersenyum.

“Tunggu aku, ya?” pintanya. Matanya memancarkan tatapan polos namun tulus, mengetuk tubir hatiku yang terdalam.

Aku mengangguk, dan mengangkat gelasku sambil tersenyum. A whipped cream hot chocolate, I owe you!

Akan dimuat pada Antologi cerpen project #MMB

Bukan Romeo dan Juliet

Seorang pemuda berjalan membawa cangkul dari halaman rumahnya. Perawakannya kekar, masih muda, dan wajahnya terlihat tegas. Masih subuh, tapi pemuda ini sudah keluar mengikuti rombongan pemuda – pemuda lain yang juga seperti dirinya – membawa cangkul. Si pemuda melewati sebuah pekarangan rumah yang menarik perhatiannya.

“Dinda…” pemuda tadi memanggil seorang gadis yang sedari tadi menimba air di sumur. Gadis ini menoleh, tersenyum, tangannya masih memegang tali. Tipikal gadis desa, ia memakai kain bermodel kemben, rambutnya disanggul sedikit diatas dan sisa rambutnya dikepang.

“Kakang, sudah mau berangkat? Dinda sudah buatkan sedikit makanan untuk Kakang nanti,” segera tangan gadis itu menarik tali, dan mengangkat kendi yang terikat tali yang ditariknya. Segera ia angkat kendi yang berisi penuh air dan bergegas masuk ke rumahnya. Pemuda ini tersenyum, cangkulnya diturunkan dari pundak ke tanah, menunggu si gadis. Pujaan hatinya, sejak mereka masih kanak – kanak.

“Dinda, kau tahu? Tentara kumpeni itu bahkan hanya memberi Kakang 6 jam untuk berhenti bekerja. Manalah mungkin, Kakang punya waktu untuk menyantap berkah makanan ini, Dinda?” Pemuda ini merupakan salah satu pekerja rodi tentara Belanda, yang mana pemimpinnya adalah seorang cecunguk bertangan besi dan berhati jahat bernama Herman Willem Daendels. Sejak kedatangannya setahun yang lalu, Daendels memberikan titah untuk membangun jalan yang menyambungkan jalur pantai utara Jawa. Hal ini merupakan salah satu upayanya dalam hal pertahanan yang memang ditugaskan khusus oleh pemerintah pusat Belanda kepadanya.

Sri Pramesti, nama gadis itu, menghela nafasnya namun disusul oleh senyuman yang membuat kekasihnya seperti ditiup angin surga. Jaka Prawoto, si pemuda, mengusap lembut rambut kekasihnya.

“Kalau memang begitu, makanlah sekarang, Kang! Dinda hanya ingin Kakang tetap kuat diperbudak tentara jahat itu. Dinda takut, Kang!” keresahan tersirat di wajah ayu Sri. Bukan keresahan biasa, “Kakang tidak mengerti ketakutanmu, Dinda.. Kakang baik, Dinda.” Jaka mengupas ubi jalar yang sudah dikukus Sri untuknya tadi.

“Kakang tahu sendiri, sudah berapa banyak pemuda kampung ini yang meninggal karena paksaan kerja ini. Dinda… Dinda resah, Kang. Dinda takut Kakang pun menjadi korban, Kang..” Sri memegang lembut lengan pria yang sangat dicintainya itu. Mereka berdua sudah menjalin hubungan kasih sejak Sri baru berumur 10 tahun. 5 tahun sudah berlalu, Sri Pramesti masih menanti tiba waktu kekasihnya meminang dia. Teman – teman sepantaran Sri bahkan sudah memiliki anak.

“Doakan Kakang, Dinda. Hanya Tuhan yang bisa menjaga Kakang dari siksaan tentara bengis itu, Dinda. Apalagi di sisi lain, Kakang sudah sangat ingin mempersuntingmu, kau tahu itu, kan?” tanya Jaka mantap yang dijawab Sri dengan anggukan kepala. Keduanya lalu terdiam sejenak, namun memang tak terasa, semakin ramai pemuda yang melewati depan pekarangan itu, pertanda sudah dekat dengan jam kerja mereka. Jaka mengangkat kembali cangkulnya ke pundak, “Kakang berangkat, Dinda.” Jaka kembali mengusap kepala gadis pujaannya itu lalu berlalu dari pekarangan Sri.

❊ ❊ ❊

Beginilah kehidupan menyedihkan salah satu kampung kecil yang masih bagian dari Kerajaan Banten. Nederlands Indies mengambil paksa daerah – daerah yang berpinggiran dengan Pantai Utara Jawa. Demi pembuatan jalan sepanjang jalur itu, segenap masyarakat dipaksa dan disiksa untuk menjadi budak tanpa bayaran. Bahkan, tanpa segan tentara Belanda akan membunuh siapapun yang berusaha melawan.

Jaka Prawoto adalah salah seorang pemuda yang gesit dan (ternyata) merupakan salah satu andalan tentara Belanda dalam bekerja. Mengapa? Pemuda ini gesit, selalu bersemangat, dan cerdas. Jaka dapat “bergaul” dengan tentara Belanda yang bengis itu karena dirinya adalah seorang keturunan darah biru kerajaan yang pernah belajar bahasa Belanda, bukan, bukan untuk berhianat tetapi untuk menjembatani hubungan dengan segenap staff Nederlands Indies.

Hari ini sungguh melelahkan, Jaka tak dapat konsentrasi bekerja seperti hari kemarin. Pikirannya melayang kepada angannya yang sudah sangat ingin mempersunting Sri, segera menjadikannya istri. Jaka memikirkan berbagai cara yang ikhlas ditempuhnya, demi bisa memiliki kesempatan untuk menikahi Sri, yang mana Jaka hampir saja kena sambitan cemeti tentara Belanda.

CTAAARR!! Cemeti itu disambit sangat dekat dengan Jaka untuk memecahkan lamunannya yang membuat pekerjaannya tak efisien. Tentara Belanda itu meneriakinya, “ Goed werken, slaaf of wilt u DOOD zijn!!!” – Kerja yang benar, budak, atau kau mati!!!

Tentu saja Jaka terkesiap. Jarang sekali ia mendapat teguran keras, tapi pemikirannya sudah matang. Besok adalah waktu yang tepat untuk rencananya.

Tak terasa, subuh selanjutnya sudah menjelang. Jaka sembunyi – sembunyi berjalan menuju rumah Sri, perlahan sekali Ia memanggil Sri dari balik semak – semak, “Dinda…” bisiknya. Sri merasa ada panggilan dari Jaka kekasihnya, namun ketika ia menoleh tak ada sosok Jaka ditemukannya.

“Dindaaaa…” panggil Jaka sedikit lebih keras, tapi ia khawatir akan ada yang mendengarnya. Sri menoleh, bingung, “Kakang..?” panggilnya. Jaka melempar kerikil dari balik semak – semak, “Kakang disini, Dinda. Kemarilah!” kata Jaka. Sri yang agak bingung sekaligus terbersit rasa takut berjalan ke arah kerikil tadi dilempar. Tiba – tiba tangannya ditarik oleh Jaka dari balik semak – semak.

“Kakang?” panggil Sri kaget. Segera Jaka menutup mulut Sri dengan tangannya lalu menoleh ke kanan dan kiri, takut ada orang yang mendengar suara Sri barusan,“Pelankan suaramu, Dinda. Hari ini, Kakang mau mengajakmu pergi. Berdua saja, kita pulang senja nanti. Ayo ikut Kakang!” Jaka menarik tangan Sri, sambil membungkuk mereka berdua perlahan memasuki hutan.

Matahari sudah mulai tinggi, namun Jaka dan Sri tak kunjung sampai. Sedari tadi mereka berdua bersenda gurau. Hingga pada akhirnya, Jaka berhenti di bawah pohon yang amat rindang, dan mengajak Sri duduk bersamanya di bawah pohon itu.

“Dinda, kau tau aku sangat mencintaimu sejak kita berdua masih kanak – kanak?” tanya Jaka sambil memandang mata Sri lekat – lekat. Sri tersipu, pipinya bersemu merah, jarang sekali Jaka memperlakukannya seromantis ini.

“Dinda tau, Kakang. Dinda juga mencintai kakang sejak kecil, apalagi sejak orangtua Dinda dibunuh tentara, hanya Kakang yang Dinda punya..” Jaka menggenggam tangan Sri, “Maukah kau menikah denganku, Dinda?”

Sri terperangah. Inilah kalimat yang ditunggunya selama bertahun – tahun. Sri segera menanggukkan kepalanya, ia menangis terharu. Jaka tertawa bahagia melihat reaksi Sri, rencananya untuk melamar Sri berhasil. Tak lama, Jaka dan Sri kembali melanjutkan perjalanan mereka, pulang, dengan wajah yang berseri – seri.

❊ ❊ ❊

Jaka terbangun dari tidur lelapnya. Ia mendengar jerit dan tangisan wanita dari luar rumahnya. Ternyata, tentara Belanda memporak-porandakan kampung itu, beberapa rumah malahan sudah terbubung api yang menjalar ke rumah – rumah sekitarnya. Deg! Sri! Jantung Jaka tiba – tiba berdegup kencang, kekasihnya pun pasti akan menjadi korban penyiksaan tentara kejam itu. Segera Jaka keluar dari pintu belakang rumahnya, lalu berlari dengan gesit ke rumah Sri.

“KAKAAANNNNGGG!!” jerit Sri tak karuan begitu dua tentara menyeretnya keluar dari rumah. Jaka pada saat itu baru saja tiba di depan rumah Sri dan mendengar kekasihnya berteriak ketakutan.

Laat haar nu vrij!” lepaskan dia- Jaka berteriak.

Wie denk je bent je?” Kau kira kau siapa?- balas tentara itu. Tangan kanan dan kiri Sri sudah dicengkram oleh dua tentara yang mana matanya sudah menyala – nyala seperti dilingkupi hawa nafsu. Jaka bergidik ngeri melihat liarnya kedua tentara ini. Namun sedikitpun, dia tak akan menyerah

Zij zijn onze onbijt! Hahaha…” Dia sarapan kami- Gila! Sungguh barbar! Entah bagaimana jadinya nanti nasib Sri. Tentara Belanda sungguh tak berperasaan, banyak sekali wanita wanita setelah diperkosa langsung dibunuh.

Over mijn lijk!”lewati dulu mayatku!-desis Jaka lalu menghunuskan bambu runcingnya ke salah satu tentara dan mengenai lengan tentara itu.

“Das!!”Sialan- maki tentara yang lain. Tiba-tiba Jaka dibacok dari belakang, lalu pandangannya seketika gelap. Jaka ambruk.

Sri segera dibawa. Ia sudah tak henti – hentinya menangis, namun dalam kepalanya sudah entah berapa banyak rencana yang ia pikirkan untuk bisa melepaskan diri dan lari dari tentara ini. Begitu Sri dan tentara itu sudah mendekati markas, Sri meminta agar diantarkan ke sungai agar ia dapat membersihkan diri sebelum melayani permintaan para tentara.

Tapi ternyata ketika di sungai, Sri malah bisa lepas dari cengkraman tentara – tentara itu karena Sri dibantu untuk melarikan diri oleh temannya satu kampung yang mengalihkan perhatian. Namun bergitu para tentara itu menyadari bahwa Sri telah kabur, sang teman yang menolong Sri ditembak mati oleh tentara itu. Kejam.

❊ ❊ ❊

Jaka terbangun dari pingsannya, dan menyadari bahwa kampungnya telah porak – poranda. Dengan perasaan marah dan dendam, Jaka menyusul ke markas tentara itu. Yang paling diutamakannya adalah keselamatan calon istrinya, Sri. Jaka tidak sanggup membayangkan apa yang akan dilakukan tentara keji itu. Jaka berlari sekuat tenaga menuju markas tentara Nederlands Indies dan mencari tentara yang membawa Sri tadi.

“Dimana kekasihku? JAWAB!” sergah Jaka yang langsung menitikkan ujung runcing bambunya pada leher si tentara. Teman – temannya tertawa. Jaka semakin menekan bambu itu.

“Kekasihmu sudah kubuang ke laut! Hahaha..” kata tentara yang bebas dari bambu runcing Jaka. Jaka terkesiap. Pikirannya kacau, hatinya hancur, tak percaya. Sigap saja para tentara itu langsung memukuli Jaka hingga babak belur. Syukur – syukur tidak ditembak mati meskipun hanya itu yang Jaka inginkan saat ini.

“Susulah dia! Kau ku beri kesempatan untuk ikut mati menyusul kekasihmu yang cantik itu!” kata para tentara itu lalu pergi sambil tertawa puas.

Tinggalah Jaka, dalam kesakitan, memori pikirannya memutarkan kenangan – kenangan indah yang dilaluinya bersama Sri, kekasihnya. Terutama memori hari kemarin, saat ia akhirnya melamar Sri untuk menjadi istrinya. Namun hari ini, Sri telah dibawa pergi dan dibuang ke laut, Jaka tak memiliki alasan untuk hidup.

Jaka mengerahkan semua tenaganya yang tersisa untuk bangkit dan pergi ke laut. Menyusul Sri.

❊ ❊ ❊

Sri, kekasih Jaka, sebenarnya masih berusaha keluar dari hutan belantara, menuju tepian laut. Seingatnya, di bawah tebing laut yang curam, ada goa yang belum diketahui oleh siapapun, kecuali dirinya dan Jaka. Dulu, Jaka dan Sri sudah sepakat untuk lari ke goa itu seandainya sewaktu – waktu tentara Netherlands Indies membuat kerusuhan lagi di desa itu. Hari ini adalah saatnya. Namun kini, Sri tidak bisa berlari karena kakinya tertancap duri yang cukup dalam.

“Tunggu Dinda, Kakang..” kata Sri dalam sisa suaranya.

❊ ❊ ❊

Laut yang tiada ujungnya sudah terpapar di hadapan Jaka. Dalam langkahnya yang gontai, lemah, tak ada asa, Jaka terdiam. Ia bersimpuh di ujung tebing curam itu.

“Dinda.. Maafkan Kakang yang tak mampu melindungimu dengan sempurna..” hanya suara parau Jaka yang dapat terdengar, “Kakang sangat mencintaimu, Dinda. Sangat menginginkanmu..”

Jaka terdiam. Mendengarkan suara hembusan angin yang menderu tubuhnya yang penuh luka. Ia memegang dadanya yang terasa sakit. Bukan, bukan karena penyakit. Tapi karena rasa kesedihan yang mendalam, yang tak bisa diterimanya. Hanya Sri lah tempatnya berpulang, hanya Sri lah sumber keteduhan jiwanya.

“Ini Kakang datang menyusulmu, Dinda..” kata Jaka. Langkahnya gontai perlahan. Hidup ini tiada berharga lagi baginya tanpa kehadiran kekasihnya.

Jaka melompat.

“KAKAAAAAAAAANGGGG!!”

Saat yang bersamaan pula, Sri sampai di tempat itu, menyaksikan pujaan hatinya menyerahkan nyawa ke pangkuan ibu pertiwi.

Sri bertelut. Dadanya serasa ingin meledak, jemarinya gemetaran. Sri terlambat. Ia terlambat menemui Jaka. Air mata yang semula hampir kering, kembali bercucuran.

Hanya ada satu cara untuk menemuimu, Kakang…

Sri bangun…

Tunggu aku, Kakang.. Kita harus selalu bersama..

Sri Pramesti menyusul Jaka Prawoto. Cinta yang semula bersatu, dipisahkan oleh maut, kembali menyatu di alam baka.

Terinspirasi dari sejarah kekejaman Belanda dalam kerja rodi pembangunan jalan Anyer – Panarukan

 Matahari begitu terik siang ini, anak – anak itu tertawa riang sambil melambaikan tangannya padaku. Sejenak, mereka kutarik dari dunia nyata yang bernama realita, namun sayang sudah saatnya mereka kembali.

Aku memasukkan buku – buku yang sudah tertumpuk rapi di mejaku ke dalam rak bertuliskan ‘Bahasa Indonesia’. Kulirik jam di dinding menunjukan pukul 12.50. Niki belum datang, dia terlambat entah kenapa, padahal katanya mau bertemu anak – anak sebentar.

Sembari menunggu Niki, kunyalakan laptopku. Menurut agenda, besok kami akan memulai pelajaran praktek bercocok tanam. Berarti, besok, Niki dan anak – anak akan berkotor ria dengan tanah dan pupuk. Membayangkannya saja hatiku terasa nyaman. Inilah duniaku. Tidak sempurna tapi mampu membuatku bahagia. Apakah sebenarnya arti kebahagiaan? Itu relatif bagi setiap insan.

Tak lama, Niki sampai di depan rumah. Segera kuhampiri ia yang kerepotan mengangkat karung – karung.

“Kok telat, sayang?” tanyaku sambil membawakan kantongan plastik hitam yang isinya adalah pot – pot plastik dan beberapa pak polybag.

Niki tersenyum, ia mencium keningku lembut, “Aku tadi mampir dulu di nursery beli perlengkapan ngajar besok..” Aku tersenyum. Niki adalah lelaki yang kupuja setengah mati, yang sangat sempurna di mataku. Aku tahu ia sangat kerepotan mengangkat karung – karung yang ternyata berisi tanah itu, tapi dia tak mengijinkanku membantunya sama sekali.

Begitu Niki selesai dengan kerepotannya, aku sudah siap dengan secangkir cappuccino di tanganku yang membuat Niki tersenyum sumringah. Ah, senyumannya itu bahkan hingga kini tetap membuat jantungku berdebar tidak karuan.

Begitu Niki duduk selonjor di atas tikar, aku segera menyusulnya. Kupijiti perlahan lengan dan bahunya agar ia merasa nyaman. Niki tertawa, “Haha, Ash, kamu emang ahli telepati paling jago sedunia!” Aku ikut tertawa mendengar perkataannya itu. Niki mengubah posisinya menjadi tengkurap, agar lebih mudah kupijiti.

“Kamu tadi ditanyain anak – anak, Nik.. Apalagi Melati. Dia masih keukeh mau jadi rival aku! Hahaha..” Aku mulai bercerita pada Niki tentang kelas hari ini. Anak – anak yang sedari tadi kuceritakan adalah anak – anak jalanan di perempatan lampu merah daerah Pasar Rebo. Usia mereka beragam, antara 6 – 15 tahun. Mereka datang ke rumah ini setiap hari dari pukul 9 pagi hingga pukul 12 siang.

Bukan perkara mudah mengajak mereka datang untuk belajar kemari. Pasalnya, anak – anak ini kesehariannya mengamen dari bis ke bis. Sudah pasti menjadi sebuah masalah buat mereka, jika menghabiskan 3 jam sehari tanpa menghasilkan uang. Tapi Niki cerdik. Niki yang memiliki ide, untuk membawa anak – anak jalanan itu datang ke rumah ini, kita harus memberikan imbalan yang setimpal. Apakah itu? Sebungkus makan siang untuk mereka.

Sudah delapan bulan, aku, Niki dan beberapa teman – teman mengajar anak – anak jalanan itu. Rumah ini sendiri adalah rumah yang aku sewa sebagai tempat untuk kegiatan belajar mengajar. Anak – anak jalanan itu sudah sangat familiar dengan rumah singgah ini, terutama denganku dan Niki. Delapan bulan ini kulewati bersama Niki. Ah, jika kuingat dari hari pertama aku bertemu dengannya, hal – hal menakjubkan tak pernah berhenti menghiasi setiap hari dalam hidupku.

Niki tengkurap sambil kupijiti, tapi lama kelamaan, celotehnya tak lagi kudengar. Niki kenapa? Kuhentikan pijatan tanganku pada punggungnya, agar bisa melihat wajah Niki. Ya Tuhan.. Niki tertidur. Wajahnya yang tampan itu terlihat tenang sekali, membuat hatiku terasa damai.

Kurebahkan tubuhku di sisi Niki, menyamping. Aku ingin memandanginya sampai mimpi menjemputku.

* * * * *

“Kak Niki, mana lagi pupuknya?” teriak seorang anak laki – laki yang pipinya terdapat noda berwarna coklat. Niki-ku masih sibuk mengajari seorang anak perempuan kecil caranya menanam biji cabai pada sebuah kantong polybag. Niki sepertinya nggak mendengar permintaan anak lelaki kecil itu.

“Kak Niki, pupuknya, Kaaakk!!” teriak anak lelaki tadi. Namanya Damar. Giginya ompong di depan, lucu sekali, terutama ketika ia berteriak. Niki masih saja mengacuhkan permintaan Damar karena masih asyik mengajari seorang anak perempuan. Aku diam, penasaran akan yang terjadi setelah Damar kehilangan kesabarannya.

“Kak NIKII!!” jerit Damar. Niki menoleh, tapi.. PUKK! Wajah Niki dilempar sebongkah tanah oleh Damar. Aku terbelalak. Wah, sepertinya akan ada pertempuran.

Benar saja, Niki segera membuat bongkahan tanah lain lalu, “PERAAAANGGG!!” seru Niki. Ia melemparkan sebongkah tanah. Huaa, anak – anak yang lain segera menyusul ulah Niki. Perang lempar tanah dimulai. Rusuh sekali dan ribut karena semua orang saling berteriak keseruan.

Perlahan aku menyelamatkan diriku dari kekacauan perang itu. Aku nggak mau ikut – ikutan kotor seperti mereka. Tapi tiba – tiba, ada yang memeluk tubuhku dari belakang.

“Anak – anak! Ada yang melarikan diri, nih! Serang!!” perintah Niki yang kini memeluk tubuhku erat. Anak – anak segera melempariku dengan tanah, aku melepaskan diri dari pelukan Niki dan ikut bertarung.

Ketika hari sudah benar – benar siang, kami semua duduk kelelahan di teras belakang. Niki yang sedari tadi sudah duduk back to back denganku, tiba – tiba berdiri.

“Kakak mau nanya.. Siapa yang suka pelajaran bercocok tanam kita hari ini?” tanya Niki dengan senyumannya yang khas.

“Aku, aku!!” sahut anak – anak itu menjerit sambil mengacungkan telunjuk mereka. Hebat, tadi mereka terlihat sangat kelelahan, tau – tau kembali enerjik lagi! Niki tertawa melihat antusiasme anak – anak itu.

“Nah, kalo suka, pasti tau dong, apa tujuan kita belajar bercocok tanam?” tanya Niki lagi sambil mengulum senyumnya. SIING, sunyi senyap, anak – anak itu serentak memasang mimik serius, berpikir keras. Kira – kira, apa tujuan kita bercocok tanam?

Seorang anak perempuan, namanya Melati, mengacungkan telunjuknya, “Supaya nanti, kalo Melati udah nikah sama kak Niki, Melati bisa tanem wortel yang kak Niki selalu makan!” celotehnya. Aku cengo dengan sukses. Anak – anak yang lain spontan menyoraki Melati yang kelewat narsis. Niki tertawa melihat ekspresiku yang nelangsa maksimal.

“Jangan dengerin Melati, kak Aislinn! Kak Niki, ‘kan, nanti nikah sama kak Aislinn!” jerit Umar, salah satu teman sepantaran Damar. Anak – anak yang lain juga menyetujui perkataan Umar dengan menganggukkan kepala mereka. Aku hanya nyengir pasrah. Sulit memang kalau punya kekasih yang tampannya melebihi batas toleransi seperti Niki.

“Hei, udah, udah. Ayo, dong! Apa tujuannya kita bercocok tanam hari ini? Masa lupa, sih?” Niki kembali bertanya, mengembalikan pembicaraan yang sempat melenceng. Anak – anak kembali tertegun. Sumi, seorang remaja perempuan yang juga ikut belajar mengacungkan telunjuknya.

“Supaya kita bisa tanem cabe juga, trus nanti cabenya dijual di pasar. Harga cabe ‘kan lagi mahal, pasti untungnya banyak, nih, temen – temen!” kata Sumi. Ah, Sumi memang pintar dan berpengetahuan lumayan diantara anak – anak jalanan seumurannya. Niki mengangguk sambil tersenyum.

“Sumi bener! Tapi, kakak masih punya satu tujuan lagi, loh! Tebak, dong!” tantang Niki lagi. Kali ini semuanya nggak ada yang mengacungkan telunjuknya. Niki menoleh padaku, ah, ternyata ini saatnya aku yang ambil alih menjelaskan semuanya pada mereka.

“Coba siapa disini yang ngerasa kulitnya kaya disetrika setiap siang?” tanyaku. Aku sengaja menggunakan kata “disetrika” supaya terdengar lebih ekstrim namun menarik minat mereka. Semua anak mengacungkan telunjuk. Aku tertawa. Niki juga mengacungkan telunjuknya, ia sekarang duduk di bawah kakiku, sambil memasang wajah polos yang sangat menggoda untuk kucubit pipinya.

“Kalian udah pernah Kak Myrna ajarin soal pemanasan Global, kan? Nah, kulit kalian itu tambah gosong, soalnya Bumi kita, nih, payungnya udah bocor. Bayangin, deh, kalo lagi ujan, terus kalian pakai payung yang bocor, pasti kena tetesan ujan dari bolongan di payungnya, kan?” Niki tersenyum mendengar kalimat – kalimatku barusan. Menurut Niki, aku selalu pintar menggunakan analogi yang disukai anak – anak.

Aku melanjutkan penjelasanku, “Nah, bumi kita juga punya payung. Payungnya itu bukan buat hujan. Tapi buat panasnya Matahari. Hmm, gara – gara payungnya bocor, panasnya Matahari jadi bisa nembus celah – celah bocornya, deh! Akhirnya, kulit kak Aislinn juga ikutan gosong, nih!” kataku sambil manyun. Anak – anak tertawa melihat ekspresi manyunku. Niki? Niki hanya memandangiku dalam diam sambil tersenyum.

“Hayo, siapa yang tau, gimana caranya kita mengurangi pemanasan global, alias kebocoran payung?” kali ini aku mau anak – anak untuk berpikir. Mengingat kembali pelajaran yang pernah mereka terima dari Myrna, seorang mahasiswi jurusan Bioteknologi yang secara sukarela ikut membantu di rumah singgah ini.

Anak – anak masih berpikir, sampai akhirnya aku melihat ada bohlam menyala di atas kepala Melati. Oh, tidak. Jangan – jangan akan dia hubungkan dengan Niki-ku lagi! Aku mencoba untuk tersenyum senatural mungkin, lalu menganggukkan kepalaku untuk mempersilahkannya menjawab pertanyaanku.

“Kak Aislinn, kata kak Myrna, kita harus tanam banyak pohon sama siram banyak pohon. Supaya Mataharinya nggak jahat lagi..”Ah, Melati.. Anak perempuan ini dibalik kenarsisannya yang kelewatan, tersimpan otak yang cerdas. Aku menggangguk setuju sambil tersenyum.

“Melati bener! Kita harus tanam banyak pohon, lalu menyiram pohonnya dengan rajin. Nanti lama – kelamaan, bolong di payungnya berkurang!” kataku excited lalu melirik Niki. Kini gilirannya.

“Jadi, itu udah kakak siapin. Setiap anak membawa satu kantong plastik. Isinya tanah, pupuk, polybag dan biji cabe. Boleh ditanam disini, boleh dibawa pulang. Tapi yang pasti, itu sebagai modal kamu untuk jualan cabe di pasar, yah!” kata Niki riang. Anak – anak segera berhamburan mengambil jatah kantong plastik mereka masing – masing lalu pamit pergi. Sudah waktunya mereka kembali ke realita.

Seusai merapikan kekacauan di teras belakang rumah singgah itu, Niki mengantarku kembali ke apartemen. Katanya, sudah lama sekali dia nggak tidur di sofa panjangku saking sibuknya dengan pekerjaannya di yayasan sosial miliknya.

Niki-ku ini adalah anak dari seorang billionaire yang masuk dalam daftar orang kaya di Indonesia. Tapi itulah keunikan Niki. Ia tidak mau meneruskan perusahaan ayahnya dan malah membuat yayasan sosial yang tujuannya menyejahterakan orang – orang miskin dan terlantar. Salah satunya, ya, rumah singgah ini. Dulu, pertemuanku dengan Niki juga karena aku ini sedang membuat proposal sponsor untuk membuat rumah singgah anak – anak jalanan. Aku bertemu Niki tanpa rencana. Malahan jadi rekan kerja sekaligus kekasihnya.

“Ash..” panggilnya begitu merebahkan diri ke atas sofa panjang favoritnya di apartemenku. Aku menoleh pada Niki, matanya sudah sayu. Sepertinya dia kelelahan. Aku membawakannya secangkir jasmine tea untuk diminum agar membuatnya lebih rileks.

“Minggu depan, ajak anak – anak ke taman mini, yuk! Banyak yang bisa kita ajarin ke mereka disana!” itu kalimat terakhir Niki sebelum akhirnya Ia jatuh tertidur.

* * * * *

Hari yang telah direncanakan Niki pun tiba. Hari ini, aku, Niki, dan anak – anak rumah singgah akan study tour ke Taman Mini Indonesia Indah.

Niki menyewa sebuah mobil elf yang mampu mengangkut 12 orang. Yang paling mengejutkan, Niki-lah yang menyetir! Ah, lelakiku ini. Dia memang sangat bersinar di mataku. Hatinya begitu tulus!

Sampai di sana, Niki mengajak berkeliling melihat berbagai rumah adat di Taman Mini. Masih cukup terawat, meskipun pengunjung rumah – rumah adat itu cenderung sepi. Sesekali, Niki menghentikan mobilnya dan membiarkan anak – anak memenuhi rasa ingin tahunya melihat salah satu rumah adat.

Hari sudah semakin siang, stamina anak – anak pun sudah berkurang, aku mengajak mereka untuk piknik di taman Indonesia. Tahu, nggak?

Taman Indonesia itu sebenarnya taman biasa. Tapi yang membuatnya spesial adalah karena taman itu dibuat menyerupai wilayah Indonesia. Dipisahkan oleh air danau. Ada pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papun, Nusa Tenggara, Bali, Lombok, ah, pokoknya semua pulau! Hebat sekali, ya? Anak – anak terpukau.

“Taman Mini ini sebenernya ngajarin anak – anak banyak banget, ya, sayang..” kata Niki padaku begitu anak – anak malah memilih untuk menjelajahi pulau – pulau buatan itu dibandingkan menyantap makan siang mereka.

“Iya, sayang. Anak – anak bisa belajar keanekaragaman Indonesia. Belajar artinya menerima perbedaan, belajar buat ngerti, kalo di dunia ini nggak ada yang bisa seragam. Pasti ada aja yang bikin beda. Ya, kan? Banyak orang Indonesia yang udah lupa soal itu, Nik.. Udah jadi tugas kita, sebagai orang waras, untuk mengajari anak – anak kecil kembali kepada Bhinneka Tunggal Ika, Nik..” kataku. Mataku menerawang. Memang, sungguh nggak adil melihat banyaknya perpecahan yang dikarenakan perbedaan. Kemanakah toleransi?

Niki mengelus rambutku, lalu mengecup keningku perlahan, “Kamu tau, Ash? Bagian dari dirimu yang itu, yang bikin aku jatuh cinta setengah mati sama kamu.. Kamu itu sama warasnya sama aku.. Satu – satunya wanita yang sepikiran sama aku..” Niki nyengir setelah mengatakan hal itu. Aku tertawa simpul. Benar, aku dan Niki memang selalu sepemikiran. Niki meniup peluitnya, pertanda meminta semua anak untuk kembali ke tempat berkumpul.

Tak lama, semua anak sudah lengkap. Aku langsung membagikan makan siang mereka. Aku dan Niki asyik saling senderan, sambil melihat keceriaan anak – anak ini bersenda gurau. Aku lalu membuka pembicaraan.

“Siapa di sini yang punya musuh?” tanyaku. Semua anak terdiam sambil memandangiku dengan bingung.

“Siapa di sini yang punya sahabat?” tanyaku lagi. Kali ini mereka kompak mengantakan, “AKUU, KAKK!!” Niki tertawa.

“Oh, punya semua, ya..” kataku. Aku menarik nafas, lalu mulai bercerita, “Ada sepasang sahabat. Mereka mirip banget! Suka warna hijau, suka menyiram bunga, suka makan tempe, suka nyanyi. Pokoknya banyak banget kesukaannya yang sama..”

“Dua orang sahabat ini selalu membangga – banggakan ke orang lain, kalo mereka itu mirip banget!” kataku. Wajah anak – anak ini, termasuk Niki-ku menatapku penuh rasa penasaran.

“Tapi suatu hari, ada seorang cowok ganteng, mengajak keduanya berkenalan. Nah, coba tebak apa yang terjadi?” tanyaku. Sumi langsung mengacungkan telunjuknya. Aku mempersilahkannya menjawab.

“Dua orang sahabat itu suka sama cowo yang sama, kak!” Aku tersenyum mendengar jawaban itu. Aku menggeleng. Anak – anak itu terperangah.

“Mereka bertengkar karena cowok itu, sayang..” kataku lagi. Anak – anak semakin bingung, sambil bertanya – tanya. Niki tersenyum padaku, sepertinya Ia sudah tau apa maksudku.

“Cewek yang satu, sukaaa banget sama si cowok. Dia jatuh cinta! Sedangkan, cewek satunya, benciiii banget sama si cowok. Dia muak banget! Dua orang sahabat ini bertengkar. Kenapa?” Ah, wajah anak – anak ini sungguh kebingungan.

“Karena yang satu mau pacaran sama si cowok, sedangkan yang satunya lagi musuhan. Kedua sahabat ini bertengkar karena si cowok ini. Menurut kalian, harusnya mereka gimana?” Aku ingin membuat mereka mengerti apa maksudku. Sungguh. Sumi lagi – lagi mengacungkan telunjuknya. Aku membiarkannya menjawab.

“Harusnya saling ngertiin, ya, Kak? Namanya juga sahabatan! Harusnya ngejaga perasaan sahabatnya, ya, Kak? Yang suka, jangan berlebihan. Yang benci, agak dikurangin. Gitu, ya, Kak?” tanya Sumi. Aku menganggukan kepalaku. Anak – anak kompak ber-Ooh ria tanda mereka mengerti. Aku tersenyum. Senang sekali bisa mengajari anak – anak yang masih murni pikirannya.

“Nah, saling pengertian itu namanya toleransi, sayang. To-le-ran-si!” Aku mengeja kata toleransi untuk mereka. Niki mengelus kepalaku, ia tersenyum sangat manis.

“Tadi kita udah liat banyak banget rumah adat, kan? Ada Batak, Minang, Kalimantan Selatan, NTT, dan wuaahh! Banyak banget, kan? Itu beda – beda banget, kan?” Anak – anak ini kompak mengangguk tanda setuju dengan kata – kataku.

“Kalian harus inget cerita kak Aislinn hari ini sampai kapanpun. Setiap orang, pasti punya perbedaan! Apalagi di Indonesia, wah, banyak banget perbedaannya! Nah, kalian pasti tau dong, apa yang harus kalian kerjakan ketika menemukan perbedaan?” tanyaku. Anak – anak mengangguk lagi.

“Toleransi, Kaaakk!!” Mereka kompak menjawab pertanyaanku. Air mataku jatuh. Aku terharu melihat mereka. Seandainya saja, semua orang semudah ini diajari untuk toleransi. Niki mengusap pipiku, lalu mengambil alih pembicaraan.

“Nah, kan. Kak Aislinn sampe nangis terharu karena kalian pinter – pinter. Ayo! Serbu kak Aislinn! Cium pipinyaaaa!!!” WAH! Gerombolan anak – anak langsung menyerbu untuk menciumi pipiku. Aku tertawa geli sampai berkata ampun dan diselamatkan Niki, barulah serangan ciuman itu berakhir.

“Ada satu lagi, anak – anak!” kata Niki begitu mengamankan pasukan ciuman kembali ke posisi semula. Melati langsung menyahutinya.

“Apa itu, kak Niki ganteng?” Melati melemparkan gombalan, yang sungguh mencengangkan. Astaga! Dia menggoda pacarku!

“Dalam toleransi, kita juga harus menghargai perbedaan yang dimiliki orang lain. Teruuuss, kita juga harus menghargai apa yang kita punya. Seperti ilmu, sahabat, kesopanan.. Ngerti, ngaak?” tanya Niki dengan mimik yang jenaka. Anak – anak tertawa geli melihatnya.

“Ngerti, kak Niki!” jawab mereka serentak. Kemudian Niki mengajak mereka berbenah, lalu masuk dalam mobil.

Dalam perjalanan pulang, anak – anak tertidur. Sepertinya kelelahan. Aku dan Niki memutuskan untuk mengantar mereka pulang.

“Ash..” panggil Niki lembut sambil menggenggam jemari kananku. Aku menoleh.

“Makasih, yah.. Udah hadir dalam kehidupanku..” kata Niki lagi. Aku tersenyum, mengelus lembut pipinya. Aku nggak ingin mengatakan apapun.

“Sejak ada kamu, aku mengerti bahwa di dunia yang jahat ini, tetap ada kebahagiaan. Kamu yang mengajakku masuk dalam kebahagiaan..” Niki termenung menatap jalanan. Aku tersenyum.

“Buat aku, hidup kaya gini udah sempurna. Mendidik anak – anak. Bersama kamu.” Mendengar perkataanku, Niki tersenyum bahagia sambil menoleh padaku, matanya dan mataku bertemu. Dari ditu terpancar kebahagiaan murni yang tidak bisa dideskripsikan. Ya, Tuhan.. Terima kasih atas lelaki yang Kau kirimkan ke hidupku ini. Dia luar biasa!

Setelah mengantar anak – anak pulang ke rumahnya -mereka tinggal di perkampungan kumuh, dalam rumah kardus, yang hampir saja membuatku menangis nggak karuan- Niki mengajakku ke monas. Sangat jauh, tapi aku menurutinya. Ia sudah menjadi kekasih paling luar biasa seumur hidupku, nggak bisa kutolak permintaannya. Apalagi dengan tatapannya yang membuat jantungku seakan mau lompat.

Niki mengajakku untuk merebahkan diri di atas rerumputan hijau, di bawah pohon yang rindang. Menikmati suasana ini. Tapi tak lama, Niki beranjak duduk.

“Ash, nih ada muffin!” Niki memberiku sebuah muffin chocolate dengan taburan chocco chips di atasnya. Sangat menggoda untuk dicicipi. Tapi sebenarnya, pikiranku tergelitik.

“Dari mana muffinnya?” tanyaku. Niki menelan ludah. Dia menggaruk – garuk rambutnya. Aku hapal gelagatnya, ini pasti kegugupannya.

“Aku yang.. buat..” jawabnya polos. Aku cengo dengan sukses. Hanya itu reaksi terbaik untuk mengekspresikan keherananku. Niki bikin muffin?

“Udah, buruan makan!” kata Niki singkat, lalu mendorong jemariku yang menggenggam muffin ke mulutku. Aku menggigit muffin itu. Hmm, rasanya lumayan enak. Aku menggigitnya sekali lagi. Hmm, rasanya enak!

“Enak, Nik!” sahutku. Niki hanya mengangguk – anggukkan kepalanya, sampai akhirnya..

“Uhuk.. uhukk, uhuk, uhukk..” Aku terbatuk. Hampir saja tersedak. Seperti ada sesuatu yang keras yang hampir saja tertelan olehku. Agak kotor memang, tapi toh harus kulepeh ‘benda keras’ yang membuatku tersedak. Niki melihatku dengan tatapan prihatin sambil mengelus – elus punggungku.

Muffinmu ada ranjaunya!” kataku sewot. Tapi begitu kulihat dalam genggamanku apa sebenarnya benda keras itu, ternyata.. sebuah cincin!

“Niki…” panggilku lirih. Jadi, ini maksud Niki membuatkanku muffin. Niki tersenyum. Ia mengambil cincin tersebut dari genggamanku lalu menyematkannya pada jari manis kiriku.

I wanna grow old with you.. Having dozen kids, teach them the best and then spent the rest of my life only with you..

Niki menciumku.

Hidup memang tidak tertebak, tapi pasti sempurna bagi setiap manusia. Sempurna, jika kita mau melihat dari sisi positif kehidupan ini dan optimis menghadapi hari depan. Bagiku, hidupku sempurna!

Cerpen ini diikutsertakan dalam lomba cerpen #iCare – @nulisbuku yang berhadiah iPad. Semoga karya ini bisa menang yah.. I’m going to give the iPad to my father. He needs it. (Karya ini adalah lanjutan dari cerpen terdahulu yang berjudul This Rain belongs to Us- read it first if you curious..)

 Juli 2006

Masa Orientasi Siswa adalah satu momen berharga yang selalu diingat olehku. Di hari pertama aku menggunakan seragam putih abu – abu, aku menemukan sahabat pertamaku di SMA.

SMA Santa Theresia, Menteng adalah sekolah pilihan ayahku karena menurutnya selain kualitas sekolahnya yang bagus, pergaulannya pun baik. Aku dan dua orang sahabatku di SMP masuk SMA ini. Tapi ternyata kami bertiga berbeda kelas. Aku ingat persis. 10 – 3 adalah kelas pertamaku di masa SMA dan tidak akan pernah aku lupakan.

Semua peserta MOS diminta untuk berkumpul di hall sekolah, yang pada saat itu kondisinya masih sangat memprihatinkan. Begitu memasuki hall itu aku segera berjalan menuju deretan kursi yang diperuntukkan murid 10 – 3. Hatiku berdebar, melihat banyak murid sudah memiliki teman karena berasal dari SMP yang sama, langkahku gontai karena sahabatku masuk kelas 10 – 5. Tapi baru saja aku akan duduk, ada sepasang mata yang menatapku. Tatapan mata kami bertemu. Dia tersenyum padaku sepertinya (menurutku, sih!). Aku balas senyumnya, dan segera berjalan menuju kursi kosong di sebelahnya. Perasaanku tiba – tiba membaik. Dia menyodorkan tangannya untuk bersalaman.

“Maria..” katanya. Aku segera menyambut tangannya untuk bersalaman. Aku tersenyum lagi.

“Talita..” kataku. Lalu kami berdua duduk bersebelahan. Hatiku tenang sejak saat itu. Batinku berkata bahwa aku pasti akan selalu berteman dengannya. Firasatku benar karena dialah sahabatku sampai hari ini.

Serangkaian acara MOS ini sungguh lucu dan mendebarkan, menurutku. Bayangkan saja! Kami harus menggunakan atribut seperti rok dari kardus, sayap kupu – kupu, rambut dikepang dengan tali rafia, membawa pom – pom, dan mengemut dot bayi. Lebih parahnya lagi, kami harus berkumpul di pos yang jaraknya agak jauh dari sekolah pukul 4 pagi. Cukup membuatku kelabakan karena rumahku ada di pinggiran kota Jakarta aku bahkan sampai tidak tidur pada malam pertama MOS. Belum lagi, harus berjalan sejauh itu, dan bergandengan tangan dengan murid laki – laki yang aku nggak tau siapa!

Dalam hatiku mungkin terkadang mengumpat kesulitan – kesulitan MOS ini, tapi ada juga peristiwa yang membuatku menahan tawa sampai hampir menangis.

Ada seniorku, suaranya kencang dan agak serak – serak basah, suka sekali meneriaki kalimat andalannya, “MANA POM – POM NYAAA? ANGKAT POM – POMNYAAA! KALO CUMA SATU ITU POM! KALO DUA BARU POM – POM!”

Aku selalu menahan tawaku setiap kali dia meneriaki kalimat – kalimat itu. Belum lagi ada satu peristiwa, dimana kami diberi tugas untuk membuat surat cinta untuk senior, lalu memberi foto kami di dalam surat itu. Ada seorang murid laki – laki dari kelas lain, yang berfoto sensual sekali. Di foto itu, si murid ini berdiri di sebelah jendela, dan menatap ke arah luar jendela. Tapi yang mencengangkan adalah, si murid ini sepertinya hanya menggunakan kain putih yang dililit ke tubuh. Bayangkan, betapa menggelikannya foto itu! Parahnya lagi, para senior menyuruhnya untuk berkeliling hall untuk mempertunjukkan foto itu pada seluruh murid sambil berkata, “Saya sensual, saya sensual, saya sensual..” Saat itu, aku tak bisa lagi menahan tawaku, sampai perutku sakit, dan kena gertakan senior.

Tapi itulah, setelah hampir seminggu dikerjai dan diberi tugas yang membuat kami kelabakan, akhirnya aku dan teman – teman satu angkatanku lulus MOS dan kami diresmikan sebagai anak SMA.

Agustus 2007

Aku masuk ke jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial dan berpisah dengan sahabatku, Maria karena ia mengambil jurusan Ilmu Pengetahuan Alam. Tapi di kelas yang baru aku menemukan sahabat – sahabat yang sama gilanya denganku.

Berawal dari sebuah forum yang diadakan setelah ulangtahunku yang ke-17. Forum ini sendiri adalah momen berkumpul bagi beberapa orang yang tujuannya adalah untuk saling bicara terbuka, blak – blakan. Di momen inilah, aku menemukan orang – orang yang asyik sekali untuk berbagi suka duka menjadi siswi IPS.

Kami sangat kompak, duduk berdekatan di kelas, dan selalu ada bahan untuk ditertawakan. Maklum, tingkat kegilaan kami memang setara. Belum lagi, dengan adanya forum, mencegah kami saling menusuk dari belakang. Itulah keberadaan forum yang sangat penting. Kami bisa tertawa bersama, panik bersama, menangis bersama bahkan kesal pada orang yang sama. Hahaha..

Bagiku, mereka adalah semangatku untuk pergi ke sekolah selama kelas 11 SMA. Pelajaran IPS yang semula menjemukan, terasa sangat menyenangkan karena tiap waktu kulewati bersama 6 orang yang istimewa untukku. Mereka kusebut ‘the Fizost’.

Tapi suatu saat, aku memiliki masalah dengan organisasi yang buatku sangat penting. Awalnya masalah ini tidak terlalu mengusikku. Awalnya masalah ini hanya masalah internal saja. Tapi selalu. Dimana ada orang yang memiliki peran besar, pasti akan ada pihak yang tidak menyukai orang tersebut. Aku cukup memiliki peran besar dalam organisasi itu, namun aku terkait masalah, ada pihak – pihak yang memanfaatkan momen ini untuk menjatuhkanku dengan memfitnahku agar suasana semakin keruh. Bahkan salah satu sahabatku di ‘the Fizost’ ikut memusuhiku. Lebih parahnya lagi, saking kuatnya fitnahan itu, sahabatku sejak SMP berbalik menikamku dari belakang.

Tapi ternyata Tuhan kasihan padaku. Masih ada 4 orang sahabatku yang lebih percaya padaku dan mendukungku. Mereka yang menjadi pelindungku karena mereka yakin mereka sangat mengenaliku. Merekalah yang memberikan aku kekuatan untuk bertahan dan tetap menegakkan kepala. Aku mengundurkan diri dari organisasi tersebut, lalu pindah ke organisasi lain dan segera menjadi andalan di organisasi baruku.

Saat ini, tiap kali aku mengingat proses penguatan jati diriku itu, aku selalu terharu akan 4 orang yang selalu mendukungku itu. Mereka adalah Vina, Janice, Vincentia, dan Ruth. Terimakasih ya, sobat..

Agustus 2008

Aku mendapat kejutan dari sahabat – sahabatku di ulang tahunku yang ke-18. Rasanya aku hampir menangis hari itu, karena sebenarnya aku cukup kesepian di kelas 12. Kami terpisah dan aku kehilangan keceriaanku di kelas.

Kelas 12 SMA adalah waktu yang berat bagi murid – murid SMA karena inilah tahun terakhir bagi mereka untuk bekerja keras agar dapat lulus SMA dengan nilai yang memuaskan. Biasanya setiap SMA akan mengadakan bimbel yang wajib diikuti murid – muridnya. SMA ku sendiri sudah mengadakan bimbel wajib sejak bulan Oktober dan cukup membuat jadwalku berantakan.

Di pertengahan bulan Oktober, guru Bahasa Indonesia menawarkanku untuk mengikuti lomba Musikalisasi Puisi di SPH Karawaci. Segera kusambut tawaran lomba itu dengan senang. Aku mengajak sahabatku dan orang yang cukup kukenal dan kuketahui kemampuannya. Persiapan untuk lomba ini cukup matang menurutku, karena pada akhirnya, kami menduduki juara 2 dalam lomba musikalisasi puisi tersebut.

Kebersamaan dalam persiapan lomba musikalisasi puisi itu sangat mengesankan buatku, karena selain karyaku menang, aku kembali mendapatkan keceriaan sahabat – sahabatku yang lain yang sangat setia mengamati kami berlatih. Sungguh, sebenarnya aku ini orang yang mudah sekali terharu.

Pada bulan Februari, di saat rangkaian try out semakin memadati jadwal kami, guru Bahasa Indonesiaku kembali memberikan tawaran lomba musikalisasi puisi. Namun kali ini diadakan di sekolah kami dan lawannya adalah SMA Katolik se-DKI Jakarta. Jujur, pertama kali aku mendengar cakupan sekolah – sekolah itu, aku terkejut dan jantungku berdebar tak karuan. Tapi toh, aku menerima tawaran itu. Bahkan, guruku membentuk 1 tim lagi untuk mengikuti lomba tersebut. Semangatku pun semakin terpacu untuk membuat karya musikalisasi puisi yang jauh lebih bagus dari yang sebelumnya.

Namun, inilah kesulitannya. Kami sedang berada dalam serangkaian try out yang beruntun sehingga aku bahkan tak memiliki waktu untuk sekedar melihat syair dari dua puisi yang harus kubuat menjadi lagu. Sedangkan, tim satunya sudah selesai membuat lagu.

Aku semakin panik karena H – 5 puisi kami belum dijadikan lagu sama sekali. Aku tertawa setiap ditanya, “Gimana puisi kita, Tal?” sahabatku yang se-tim denganku suka sekali membuatku semakin panik.

Tapi inilah kami, H – 4 aku meminta guruku agar memberikan kami kesempatan agar boleh “berlatih dalam jam pelajaran yang tidak ada ujian. Kenapa “berlatih”? Alasannya adalah sebenarnya belum ada yang bisa dilatih karena lagunya belum dibuat. Tapi timku yakin padaku akan hasil karyaku nantinya. Sehingga, Tuhan lagi – lagi kasihan padaku. Dia memberikanku inspirasi nada – nada lagu di tengah jam pelajaran. Tau apa yang kulakukan? Aku takut melupakan nada – nada itu, sehingga secara sembunyi – sembunyi aku merekam suaraku dengan ponselku yang kusembunyikan dalam kotak pensil. Berhasil! Lagu itu bahkan jadi tak sampai 5 menit!!

Kami hanya memiliki 3 hari untuk membuat aransemen lagu – lagu itu. Dengan bekerja keras, rela untuk pulang sore, dan suntikan semangat dari sahabat – sahabatku yang lain, kami berhasil menyempurnakan lagu itu dalam 3 hari.

Hari perlombaan itu sendiri sangat berat karena saingan dari sekolah lain banyak sekali yang bagus. Aku dan timku hanya berlatih beberapa kali hari itu dan berdoa dengan bergandengan tangan sebelum tampil. Tuhan menyukai kerja keras dan kepasrahan kami, aku dan timku berhasil. Kami merebut juara 1!

Mei 2009

Persiapan prom night sudah matang. Sahabatku yang menjadi salah satu panitia prom night memang cukup sibuk dan cukup banyak bercerita tentang persiapannya yang agak rusuh. Maklum, momen ini hanya sekali seumur hidup. Aku sendiri disibukkan oleh kepanitiaan yearbook karena aku direpotkan oleh sponsor yang memang agak ribet dan banyak maunya.

Malam prom night berlangsung di Hotel Crown, Jakarta. Aku sudah bersiap – siap dari pagi demi tampil maksimal untuk acara itu. Ibuku bahkan secara khusus membuat desain gaunku yang sudah beberapa kali dikecilkan, karena beberapa minggu sebelum prom night aku kehilangan beberapa kilo dan terlihat cukup signifikan dalam gaunku. Sahabatku, Maria, juga meminta untuk dibuatkan gaun oleh ibuku yang memang perancang busana.

Malam ini, aku mengambil banyak foto bersama banyak orang, terutama yang selama ini banyak berinteraksi denganku. Aku ingin memiliki kenang – kenangan. Di malam itu juga, ketika seluruh lampu dinyalakan dan kami semua masuk dalam hening untuk flashback, aku teringat semua kenangan selama SMA ini. Malam itu, menjadi semakin tak terlupakan karena aku benar – benar bahagia menjadi bagian dari Theresian 2009.

Pada hari kelulusan, kami semua menggunakan kebaya dan yang laki – laki menggunakan kemeja batik. Hari itu terasa semakin spesial. Setelah ibadat, pengumuman pun dimulai. Theresian 2009 lulus 100 %. Hari itu kami semua dinyatakan secara resmi bukan lagi si anak SMA. Tawa haru meliputi kami. Buku – buku yearbook pun dibagikan. Kusempatkan meminta tanda tangan teman – teman yang berperan dalam masa SMA ku. Theresian 2009 will always in my heart.

Satu quote yang kusukai, yang juga dimuat dalam yearbook angkatanku adalah, “ A friend is someone who understands your past, believes in your future, and accept you just the way you are.” Aku juga memiliki satu quote tentang persahabatan yang kudapatkan dari pengalaman di SMA, “Bestfriend is someone who watch my back, be for me, and love me!”.

Talita - Janice - Vina

Maria - Talita

Note: Thank you Maria, Vina, and Janice for being my spirit in High School.

Pain in the Rain

“Ferryn, AWAS!!” jerit Diaz begitu melihat truk tronton melintas di depan kami. BRRAAAKKK! Pedal rem terlambat diinjak, lalu semuanya gelap.

Aku lagi – lagi terbangun dari tidurku. Memori buruk itu terus mengusikku bahkan ketika aku berada di alam bawah sadar.

CTARR! Bunyi petir yang memekakkan telinga juga seolah ikut campur untuk membuat debaran jantungku tak menentu. Peluhku menetes, tubuhku gemetaran. Bunyi tiap rintik hujan seakan menghujam kepalaku. Sakit sekali! Aku ingin berteriak, namun kuingat wajah cemas abangku akan kembali mengusikku. Aku merintih. Rasa sakit itu menyerangku. Air mataku tak terbendung, tapi tangispun tak membuat rasa sakit ini musnah.

Tuhanku… Tolong aku…

Aku memang bukan hamba yang baik, bukan hamba yang rajin bersimpuh di hadapanMu, namun, kumohon, Tuhanku.. Selamatkanlah aku dari kepedihan ini. Biarkan aku terlepas dari rasa sakit ini. Aku tak sanggup..

Pagi menjelang, aku terjaga mendengar ketukan pada pintuku. Ah, abangku yang baik hati sudah datang membawakanku senyuman. Satu – satunya senyuman yang kumiliki saat ini, yang selalu kusukai sejak kami kecil.

“Fetarryna makan, ya? Abang udah beliin kamu bubur ayam di dekat sekolahmu dulu. Abang teringat semalam, kamu selalu kalap kalo makan bubur itu..” Abangku tersenyum sambil membawa meja kayu lipat, yang diatasnya sudah diletakkan semangkuk bubur dengan asap mengepul. Kutatap matanya. Masih. Masih kutemukan tatapan cemasnya. Aku diam. Tidak mengatakan apapun padanya.

Abangku tersenyum lagi, “Abang suapin, ya! Dulu waktu kecil, kamu selalu merengek minta abang suapin. Tapi sekarang abang malah ketagihan suapin kamu..” Aku tak merespon abangku, namun aku menurutinya untuk makan. Aku tak mau menambah beban pikirannya. Abang mengusap rambutku yang kini cepak.

“Nanti siang, kak Chava dateng, Ryn. Dia sengaja dateng ke Jakarta buat nemenin kamu. Kalian itu kompak sekali, ya..” Abangku tertawa. Chava itu kekasihnya sejak 5 tahun yang lalu. Dia adalah malaikat abangku Dia cantik dan ketulusan hatinya membuat abangku bertekuk lutut. Bahkan aku. Tapi kini, maafkan aku, Kak Chava. Lukaku ini bahkan tak tunduk padamu.

Hari sudah siang, namun mentari tak kunjung terik. Aku tersiksa akan langit kelabu. Seperti ada yang memburuku, membuat perasaanku tercekam. Kak Chava datang, ia tersenyum manis begitu melihatku. Aku ingin membalas senyumannya, menyapanya, namun aku tak mampu untuk semua itu.

“Ferryn, kakak tadi mau beliin kamu permen yupi. Tapi nggak jadi, kakak beliin strawberry chessecake favoritmu aja, deh!” kak Chava menyuapiku. Aku sedikit terhibur akan kedatangannya. Kak Chava terus berbicara, menceritakan kekonyolan yang dibuat abangku. Ingin sekali rasanya aku tertawa, tapi aku tak sanggup. Aku memilih untuk tetap diam dan mendengarkan kak Chava yang bercerita dengan riang. Tak lama, mataku terasa berat dan memohon untuk ditutup. Sayup – sayup kudengar suara abangku yang terasa dekat sedang berbicara dengan kak Chava. Aku tak mau membuka mataku.

“Kita harus sabar sampai kapan, Va? Aku bawa Ferryn ke Amsterdam aja, ya?” Amsterdam? Tinggal bersama ayah dan bunda. Aku tak mau. Aku tak mau meninggalkan ‘dia’ disini sendirian.

“Jangan, sayang. Ferryn pasti semakin kesepian di sana.. Itu malah semakin membuat kondisinya parah..” jawab kak Chava. Kuintip sedikit, kak Chava sedang memegang tangan abangku, yang terlihat kusut sekali. Aku kecewa. Aku harus menghentikan kekacauan ini.

“Bang Fitto..” panggilku lirih. Aku mengerahkan seluruh tenagaku untuk bisa berbicara setelah sekian lama membungkam mulutku. Abangku menoleh, matanya menatapku nanar.

“Ferryn..” kata abangku yang langsung memeluk aku, “Akhirnya kamu bicara juga, Ryn..” Abangku terdengar sangat lega. Sakit di hatiku sedikit sembuh mendengar intonasi abangku. Kak Chava mengelus pundakku, ia pun meneteskan air mata.

“Maafin, Fetarryna, Bang.. Ferryn.. udah.. bikin.. kesalahan.. fatal..” kataku juga. Tangisanku pecah di pelukan abangku. Aku sudah tak bisa menahan semua ini lagi.

“Abang selalu ada di samping kamu, Ryn. Ada kak Chava juga yang selalu jadi sahabat kamu.. Kamu nggak sendirian, Ryn..” Aku terdiam mendengar perkataan abangku. Aku tak sendirian. Tapi ‘dia’ sendirian sekarang! Itu akibat ulahku! Perasaan berdosa ini kembali menyerangku. Aku memberontak. Melepaskan pelukan abangku yang hangat, mengerahkan seluruh tenagaku untuk bangkit dari tempat tidur. Aku ingin berlari. Pergi! Menyusul dirinya yang tak lagi dapat kupandang dan kusentuh.

Aku berlari, meninggalkan abangku yang tadi terjatuh di belakangku sambil memanggil – manggil namaku. Aku bahkan tak menoleh! Maafkan aku, bang! Tapi aku ini seorang pembunuh! Aku harus membayar dosaku ini.

Hujan sedari tadi terus menyakiti tubuhku yang rapuh ini, tak peduli seberapa muaknya aku pada hujan, ia tetap saja bersikeras ingin melunturkan dosaku. Aku tertawa pedih dalam pelarianku. Selebat apapun hujan itu membasahi tubuhku, dosaku tak akan bisa lenyap.

Aku menoleh ke belakang. Abangku tak lagi mengejarku, kuhentikan langkah kakiku. Aku jatuh bersimpuh, tangisku ini terhapus oleh hujan. Aku tertunduk. Masuk dalam keheningan jiwaku.

Diaz… Maafkanlah aku karena membuat semuanya hancur berantakan. Seharusnya kita tak berdebat hari itu. Seharusnya aku tak membiarkan keegoisanku menang dan membiarkan kita bertengkar. Maafkan aku, Diaz! Aku bersedia untuk menemanimu di sana. Aku sudah siap, Diaz.. Asalkan kau memaafkanku..

Kukeluarkan silet yang tadi kusematkan dalam kantong piyamaku. Lagi – lagi aku menertawakan diriku yang hina ini. Aku pantas untuk melakukannya. Aku harus menghukum diriku sendiri. Kuarahkan silet itu pada nadiku, menunggu untuk tiba saat yang tepat untuk mengucapkan selamat tinggal pada dunia. Kupejamkan mataku, kurasakan dinginnya hujan ini. Hujan yang dulu begitu kucintai, ternyata hujan pulalah yang merebut nyawa Diaz, menggunakan diriku.

Saatnya tiba, aku sudah merasakan kehampaan di sekujur tubuhku, saatnya kuhujamkan silet ini, menembus nadiku, mengantarku ke pelukan Diaz.

“FERRYN JANGAN!!” tubuhku didorong oleh seseorang, silet yang kupegang terlepas dari genggamanku. Aku mengenali suara itu. Abangku.

Kubuka mataku perlahan, menemukan wajah abangku yang pucat selayaknya orang mati. Aku memberontak! Aku tak mau dihentikan. Tak seorangpun boleh mencegahku menyusul Diaz. Tak juga abangku!

Abang segera memelukku. Kucoba untuk mendorongnya, tapi tidak bisa. Ia memelukku dengan erat. Masih kucoba lagi untuk berontak, tapi tak bisa. Ia memelukku terlalu erat. Dayaku habis sudah. Aku tak bisa melawannya. Aku menangis di pelukan abangku.

“Orang yang sudah pergi, tak akan bisa kembali, Ryn!” kata abangku sendu. Tubuhku semakin gemetaran. Aku lemas, abangku ikut menangis, “Meskipun kamu bunuh diri, kamu nggak akan menemukan Diaz, Ryn. Dia udah bahagia, Ryn!” Abangku berteriak dalam tangisnya yang membuatku hancur.

Sore itu, aku digendong abangku dalam pelukannya untuk pulang. Dalam isak tangisku, ia tetap mengulangi perkataanya, yang ternyata membuatku merasakan ketenangan untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu.

“Fetarryna harus kembali seperti semula. Hanya Fetarryna yang bisa mengembalikan kehidupan abang yang sempurna.”

Sejak hari itu, aku mengikuti pengobatan batin yang selalu ditemani oleh abangku atau kak Chava. Mereka berdualah yang menjadi penuntunku untuk kembali ke Fetarryna yang semula. Aku bertekad dalam hatiku, untuk mengembalikan kehidupan sempurna abangku, karena dia orang yang paling penting untukku, saat ini. Aku tak mau lagi melihat tatapan kesedihannya yang menikam hatiku.

Hari ini, aku berniat untuk menemui ‘dia’. Aku sudah yakin pada diriku, bahwa aku sudah memaafkan diriku sendiri dan siap untuk menemuinya untuk yang pertama kalinya. Aku tersenyum. Kuletakkan bunga mawar putih. Dulu ia selalu membawakan bunga itu untukku, lucu sekali rasanya, sekarang akulah yang membawakan bunga itu untuknya.

Aku berlutut dekat ‘dia’. Kupejamkan kedua mataku, kuingat lagi peristiwa kecelakaan yang merenggut nyawa Diaz, kekasihku. Ya, kami terlibat pertengkaran sehingga aku tak memperhatikan truk di depanku. Diaz melindungiku dengan tubuhnya. Dia yang menggantikan posisiku untuk pergi ke surga.

Aku sekarang paham, dan tersenyum. Kubelai lembut batu nisannya, lalu mengucapkan selamat tinggal. Aku akan hidup sebaik mungkin. Demi abangku dan Diaz..


cerpen ini dimuat dalam novel kisah hujan

 Seorang pria muncul di depan restoran, melambaikan tangannya padaku sambil tersenyum. Dia adalah Langit. Sejak 2 minggu yang lalu, dia sudah resmi menjadi tunanganku. Dalam 3 bulan ke depan, dia akan resmi menjadi suamiku.

“Udah pesen makanan, sayang?” tanya Langit setelah mencium keningku. Aku tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ah, pria inilah pria terbaik yang benar – benar mencintaiku sepenuh hatinya. Ia selalu selangkah lebih dewasa daripada aku, sehingga aku selalu bersandar pada keputusannya, karena ia sangat bijaksana di mataku. Tapi dengan terpaut 5 tahun, itu ternyata membuatnya sangat pengertian terhadap tindakan atau ulah yang kubuat. Dia pria paling sabar seumur hidupku!

Malam ini kami mendiskusikan soal dekorasi gereja. Langit menyukai ideku untuk menyulap gereja seperti taman firdaus, meskipun menurut Langit, itu seperti taman dongeng Disney.

Tapi begitulah Langit. Dia menghargai ideku dan selalu menghargaiku seumur hidupnya. He is the best man I’ll ever know. Setelah berdikusi, Langit mengantarku pulang, berpamitan pada calon mertuanya dan langsung melajukan mobilnya pulang karena ada meeting penting besok pagi.

Seharusnya malam ini, Langit tidur dengan lelap dan bertemu aku dalam mimpi. Seharusnya.

Aku berlari di lorong rumah sakit. Menuju ruang gawat darurat. Langitku. Langitku menjadi korban kelalaian manusia. Ada truk gandeng bermuatan kayu yang terlepas dari kaitannya, lalu muatan kayu tersebut keluar dari bak truk itu. Langit sepertinya bermaksud menghindari kayu – kayu itu, namun mobilnya malah terbalik karena respon setir yang terlalu mendadak dengan kecepatan tinggi.

Langit kehabisan darah. Aku segera dibawa perawat agar segera melaksanakan transfusi darah. Langit bergolongan O, namun rumah sakit tersebut kehabisan persediaan. Aku benar – benar ingin marah, bagaimana mungkin rumah sakit sebesar ini tak memilikinya! Bagaimana kalau Langitku terlambat ditolong!

Langit adalah nafasku. Tanpa Langit berarti aku tak akan bernafas. Setelah darahku selesai diambil, operasi Langit berjalan. Abangku, Mario, datang dan langsung memeluk aku yang berdiri bagaikan patung di depan kamar operasi Langit. Aku menangis di pelukannya.

Operasi Langit berjalan dengan lancar dan lelakiku itu berhasil melewati masa kritisnya. Namun, ada sesuatu yang buruk yang menimpa Langit. Ia kehilangan kinerja kakinya.

Tiga hari berlalu, Langit sadar. Aku menangis, memanjatkan puji syukur kepada Tuhan. Aku lega Langit sudah sadar. Tapi tidak untuk Langitku. Aku orang yang diberi kepercayaan untuk memberitahu Langit tentang kakinya dan reaksi Langit menikam hatiku dengan dalam. Langit terdiam, menatapku tajam. Ia shock. Aku memegang tangannya dengan lembut tapi Langit menepisnya dengan kasar. “Pergi kamu, Marianna!! PERGI!” Aku menggeleng. Air mataku tertahan di pelupuk, aku harus kuat. Langit mengusirku entah mengapa, tapi aku tak akan pergi.

“Aku nggak akan pergi! Aku ini calon istrimu, Ngit!” balasku tegas namun tidak keras. Langit menatapku marah.

“Apa yang kamu harapkan dari pria pecundang sepertiku, Rinn? Aku nggak bisa melindungimu, aku nggak bisa apa – apa! Aku nggak butuh rasa kasihanmu, Rinn! PERGI KAMU!!” Langit membentakku. Untuk yang pertama kalinya. Ragaku, hatiku, logikaku terguncang. Aku keluar dari kamar Langit. Aku gemetaran, bibirku melafalkan doa, mataku deras menangis. Mario mengikutiku keluar kamar perawatan Langit, lalu memelukku.

Aku tetap di rumah sakit. Aku menyuruh semua orang pulang agar aku yang mengurus Langit di rumah sakit seutuhnya. Langit masih tak mau membuka mulutnya untuk berbicara padaku. Langit memang menurut, tak membantahku untuk makan, minum obat, mandi dan hal – hal lain, tapi ia tak menjawab jika diajak berbicara. Aku menerima sikapnya ini sebagai salah satu reaksi terkejutnya.

Seminggu telah berlalu, Langit tak kuncung berbicara padaku. Ia bahkan semakin sering melamun dan sengaja mengacuhkanku. Aku semakin tidak tahan. Ketika Langit tertidur, aku menangis di sampingnya. Terisak. Hatiku sungguh pedih akan sikap Langit.

“Jangan urus aku lagi, Rinn.” Langit tiba – tiba bersuara. Rupanya tangisku membangunkannya. Aku mengusap air mataku. Langit tak boleh melihat aku lemah, Langit tak boleh melihat aku menangis.

“Kok bangun, Ngit? Haus, ya?” aku berusaha menahan perihnya hatiku mendengar kata – kata Langit.

“Aku mau pertunangan dan pernikahan kita dibatalkan, Rinn!” JEDERRR! Petir seolah terdengar menggelegar di telingaku. Aku menggelengkan kepala. Aku tertawa.

“Ah, Langit nih. Kamu bercanda, kan, sayang? Aku mana mungkin ngebatalin semuanya.. Setelah kamu sembuh, kita menikah, ya, sayang..” jawabku sambil tersenyum getir.

“Apa yang kamu harapkan dari aku, Rinn? Aku udah nggak bisa jalan, nggak bisa berdiri, berarti aku nggak bisa melindungimu lagi!! Kamu bahkan harus mengurusku! Kamu nggak bisa berhenti menangis seminggu ini. Karna aku! Aku benci diriku, Rinn!” Langit meneriakiku. Aku tak bisa membendung air mataku, aku menangis. Aku meraih tangannya. Ditepis… “Pergi, Rinn. Tinggalkan aku! Hubungan kita berakhir. Kamu bukan siapa – siapa lagi. Kamu nggak boleh ada di sini!” bentak Langit. Aku menggeleng. Langit menghardikku, “PERGI KAMU!!” Pada saat yang sama, abangku masuk kamar, aku segera keluar.

Tak lama, Mario ikut keluar dari kamar Langit. Lagi – lagi, abang tercintaku memelukku dan menasihatiku, “Langit terpukul, Rinn. Kamu sabar ya, ini ujian buat kamu sama Langit. Abang tau, Marianna pasti berhasil. Kamu harus meyakinkan Langit, kalo kamu mau nikah sama dia karena memang cinta. Bukan karena kasihan. Abang hafal Langit, Rinn. Dia butuh diyakinkan.. Kamu pasti bisa meyakinkan Langit bahwa kelumpuhan kakinya nggak membuat perasaan kamu berubah. Yakinkan Langit, kalo dia pantas menikahi kamu!” Mario mengelus punggungku. Aku menggangguk. Mario benar dan aku pasti memperjuangkan cintaku pada Langit. Semua demi Langit. Nafasku.

And I am telling you, I’m not going,

Even though the rough times are showing

Keesokan harinya, lusa, minggu setelahnya, aku tetap ada di rumah sakit. Mengurus Langit. Sampai akhirnya, Langit diijinkan pulang dari rumah sakit, akulah yang setia mengurusnya. Berkali – kali Langit mengusirku, membentakku, menepis tanganku. Tapi aku tak bergeming. Tetap memberinya senyuman. Tetap memakai cincin pertunangan kami, tetap memberitahukannya perkembangan rancangan pernikahan kami, yang memang tak digubris Langit, karena aku memberitahunya ketika ia tertidur.

Suatu malam, aku mengatur rencana untuk bisa makan malam dengan Langit. Aku berhasil. Aku muncul dari belakang Langit, lalu memberi kode pada penyanyi restoran. Aku berkata, “Langit, lagu ini untuk kamu…” kataku. Langit terkesiap mendengar lirik lagu itu.

And I am telling you, I’m not going.

You’re the best man I’ll ever know.

There’s no way I can ever go, no way, I’m not livin’ without you!

Di pertengahan lagu, aku berkata lagi, “Kita tetap menikah, Ngit. Kita berjodoh, Ngit!”

We’re part of the same place, We’re part of the same time.

We both share the same blood, We both have the same mind.

Langit menatapku tajam. Aku tak perduli, “Apapun yang kamu katakan, teriakkan, aku nggak peduli, Ngit! Ini cinta! Bukan kasihan! Apapun yang kamu lakukan, kamu nggak bisa mengusirku!” Aku mulai menangis. Menundukkan kepalaku.

Tear down the mountains, Yell, scream and shout.

You can say what you want, I’m not walkin’ out.

Stop all the rivers, Push, strike, and kill!

I’m not gonna leave you, There’s no way I will!

No way, I’m not living without you, Ngit. I’m not gonna leave you, Ngit!” suaraku bergetar. Aku pasti berjuang demi cintaku, demi Langitku. Aku menangis.

Ternyata Langit menghampiriku. Aku mendongak. Langit tersenyum, ia meraih pipiku, mengusap air mataku dan berkata, “Kita menikah, ya, Rinn?” Aku memeluk Langitku. Cinta kami telah melewati ujian. Aku dan Langit menikah.

Inspired by: and I am telling you I’m not going – Glee cast

cerpen ini dimuat dalam novel musicproject

Dream of You

 Laskar, namanya. Orang yang entah bagaimana membuatku menjadi perempuan yang paling bahagia di dunia ini sekaligus menjadi perempuan yang paling menderita. Laskar, atau sering kupanggil Akar, adalah seorang mahasiswa Bandung. Awalnya, aku berkenalan dengannya di sebuah konser musik klasik di Jakarta, dia menduduki kursi yang seharusnya tempatku. Sejak saat itu, kami semakin dekat. Meskipun Akar kuliah di Bandung dan aku di Jakarta, hampir setiap minggu dia pulang ke Jakarta dan mengajakku pergi.

Awal mula aku dan Akar adalah pasangan paling bahagia seantero Jakarta. Akar adalah seorang gentleman yang benar – benar impian semua cewek. Dia cowok paling pengertian, paling lembut, dan paling mencintaiku.

Hari ini peringatan 2 tahun hubunganku dan Akar. Seperti tahun sebelumnya, kami pergi ke tempat favorit kami berdua, ke restoran di tepi pantai yang juga bisa memandang bintang. Aku bahagia sekali karena ada kamu yang mencintaiku. Aku menikmati tiap detik yang aku lewati bersamamu, Akar.

“Claire…” Akar menggenggam tanganku, aku menoleh, mendapati tatapan mata yang tidak kukenali sebelumnya. Tidak, itu bukan tatapan mata Akar yang kukenal.

“Kamu kenapa, sayang?” tatapan Akar yang tidak biasa sangat menggangguku.

“Kita… mungkin… Aku…” Akar gelisah, jemarinya meremas jemariku. Tangannya basah. Aku diam, tak ingin mengatakan sesuatu, aku berusaha untuk membaca pikirannya, membaca kegelisahan mendadaknya ini. Ada apa, Akar? Kenapa jantungku pun ikut berdebar sedih?

“Kita harus… berhenti… Claire…” Akar dengan terbata – bata mengucapkan kata – kata yang membuat tubuhku kaget, tapi aku tak mengerti. Mungkin aku tak mau mengerti. Aku pasti salah dengar. Tidak. Aku pasti salah mengerti. Apa maksud Akar dengan berhenti?

Aku semakin gugup, “Sayang, ada apa? Harus berhenti apa?” Akar menundukkan kepalanya. Ia melepaskan genggaman tangannya pada tanganku. Aku tersentak. Sekejap rasa sedih menjalar di sekujur tubuhku. Air mataku seperti berkumpul di pelupuk mata. Aku menahannya agar tidak terjatuh. Mungkin aku nggak mau mengakuinya, tapi hatiku tak bisa dibohongi. Aku paham apa maksud Akar, apalagi setelah tindakannya barusan.

“Siapa, Kar? Siapa yang mengambil tempatku dalam hatimu, Kar? Kenapa kita harus berhenti, Kar…” Suaraku bergetar menahan tekanan tubuhku yang seketika menggelegak. Ingin memecahkan tangis, air mataku sudah menggelitik pelupuk untuk segera turun.

Tell me her name, I want to know

The way she looks and where you go

“Aku nggak tau harus gimana, Claire.. Aku nggak cinta sama dia.. Dia nggak… nggak mengambil tempatmu dalam hatiku..” Akar meracau, dia nggak tenang. Aku baru sadar, akhir – akhir ini Akar tidak setenang biasanya. Keresahannya ini luput dari mataku.

“Ada apa, Kar? Kenapa… kenapa ada berita buruk di hari bahagia kita, Kar? Aku… nggak pernah membayangkan ada hal ini, Kar… Siapa, Kar?” aku merasa jiwaku ini terkoyak. Aku mencintai Akar. Terlalu mencintainya. Dia pria terbaik yang selalu kuimani menjadi suamiku, selalu kudoakan setiap malam agar Akar-lah sang Adamku.

I need to see her face, I need to understand

Why you and I came to an end

“Claire… Maafin aku…” Akar beranjak dari kursinya, berlutut di depanku dan menggenggam tanganku. Aku masih berusaha tegar. Akar pasti berbohong! Nggak mungkin Akar menghianatiku.

“Kamu bohong, kan, Kar? Ahh, ini pasti akal – akalan kamu buat ngerjain aku di hari bahagia kita… Ya kan, Kar? Jangan bercanda gini, sayang, rasanya hatiku kaya ditikam samurai…” Aku mencoba tersenyum, aku mencoba! Dalam hatiku sudah nggak henti – hentinya mendaraskan berdoa, mengharapkan Yang Maha Kuasa agar membenarkan bahwa ini hanyalah lelucon konyol Akar. Tanganku mengelus lembut rambut Akar. Ia menundukkan kepalanya dan menyadarkannya ke lututku.

“Claire… Maafin Akar… Akar udah ngelakuin kesalahan besar…” Akar mulai berkata – kata lagi. Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat.

“Akar, cukup!!! Hentikan semua lelucon ini!” jawabku marah. Aku melepaskan genggaman tangannya. Aku sungguh nggak mau menerima kenyataan buruk apapun!

“Shinta! Shinta hamil! Hamil anak aku! Aku ngehamilin Shinta, Claire! Semua ini kecelakaan, aku kebanyakan minum pas ulang tahunnya, dan aku bikin kesalahan fatal, Claire! Aku.. bikin dia hamil… Claire…” Aku terhenyak.

Who broke my faith in all these years?

Who lays with you at night?

“Kenapa, Kar… Kenapa kamu bodoh…” hanya itu yang dapat keluar dari bibirku. Air mataku nggak terbendung lagi. Tubuhku berguncang. Akar terpaku, lalu memeluk erat tubuhku. Aku menangis sejadi – jadinya di pundak Akar, di pundak pria yang kupuja setengah mati 2 tahun terakhir ini. Akar pun ikut menangis. Inilah kiamatku.

Show me the tears you never shed

Give me the touch, that one you promised to be mine

Or has it vanished for all time?

Aku melepaskan pelukan Akar, mencium pipinya dengan lembut. Terbersit kebingungan pada wajah tampan pria ini. Aku tersenyum, mengamati sejenak wajah yang akan selamanya kuimpikan ini.

“Bertanggung jawablah, Kar.. Ini yang terbaik untukmu… You’ve broke our vow, but I won’t, Kar. I want you to be happy..” Setelah mengatakan kalimat heroik itu, aku pergi dari hadapan Akar.

Pikiranku kacau, tubuhku luluh lantak, air mataku tak ingin berhenti mengalir, jiwaku sekarat. Kupacu kecepatan mobilku. Aku tak ingin memikirkan apapun. Tidak Akar, hamilnya Shinta, ataupun hancurnya impian terbesarku untuk menjadi nyonya Laskar Madriga… DHUAARR.

Apa itu?? Aku kehilangan kendali pada setirku. YA TUHANN!! Tolong aku!! TOLONG CLAIRE, AKAR!!

Ada Akar duduk di kursi taman, ia tersenyum padaku. Akar memanggilku. Ya, Tuhan… Bukankah tadi aku telah kehilangan Akar? Untunglah itu ternyata tidak benar.

“Kembali ya, Claire… Ayo kita pulang, Claire. Ada Akar yang nemenin kamu, nungguin kamu…”kata Akar lalu menarik tanganku pulang.

Aku tersadar. Kepalaku sakit sekali, seperti ditindih batu 1 ton, tubuhku tak bisa kurasakan selain rasanya ada air mengalir di sekujur tubuhku. Remang – remang, mataku yang kabur menemukan bayangan Akar. Akar yang terus memanggil namaku, Akar yang menangis. Ada apa, Akar?

“Ke.. na.. pa..?” tanyaku pada Akar, lidahku terasa kelu. Tubuhku? Mendadak semua organ tubuhku memintaku untuk kembali tidur, kembali bermimpi.

“Tolong bertahan, Claire!” pinta Akar. Tangannya menggenggam jemariku, tapi entah kenapa tak bisa kurasakan. Aku tersenyum. Aku teringat dengan realita. Lalu apa, Akar? Melihatmu menikahi wanita lain?

“Tadi… aku mimpi… kamu… bawa aku… pulang… ke rumah, Kar..” jawabku sambil tersenyum. Akar menggelengkan kepalanya cepat. Aku berkata lagi, “Nikahin… Shinta, ya, Kar.. aku ikhlas…” Aku tersenyum. Aku ingin segera tidur, memimpikan Akar.

I’ll let you go, I’ll let you fly

Now that I know, I’m asking why I’ll let you go

I found a way to keep somehow more than a broken vow

“Claire…” panggil Akar lirih. Air matanya itu tidak boleh lagi turun di pipinya.

“Claire memilih… untuk tidur… dan slalu bermimpi… Akar… adalah… suami Claire…” Aku tersenyum. Akar mencium keningku, aku merasa bibirnya bergetar ketika menciumku.

“Claire Laskar..sampai mati…” Hanya itu yang sanggup kukatakan, lalu aku pun tertidur. Memimpikan Akar. Selamanya.

I close my eyes and dream of you and I

I’d give away my soul to hold you once again

And never let this promise end

(inspired by: Broken Vow – Lara Fabian)


cerpen ini dimuat dalam novel Music Project

This Rain belongs to Us

 Hujan tidak pernah absen belakangan ini. Aku membenci hujan, ah, tapi terkadang aku cukup mensyukuri adanya hujan. Entahlah… Diriku ini memang sulit ditebak, bahkan olehku.

Aku baru saja mau beranjak pulang, tapi malah hujan ini menghalangiku untuk pulang. Dinginnya hujan membawa langkahku untuk sekedar duduk dan meminum kopi di sebuah gerai kopi ternama di Plaza Senayan. Kukeluarkan laptopku. Berusaha melanjutkan proyekku untuk pembangunan sebuah sekolah singgah. Sesekali kusesap latte-ku untuk mengusir rasa dingin di tubuh. Tiba – tiba ada seseorang yang mencoba mengalihkan pandanganku dari layar laptopku.

Sorry, keberatan nggak kalo gue duduk di kursi ini?” tanya seorang pria berkacamata di depanku, “yang lain udah pada penuh, tuh!” dia tersenyum. Aku balas senyumannya, “Sure! Have your seat! Sofanya comfy banget, kok!“ Dia nyengir boyish yang cukup nyaman untukku.

Laki – laki ini terlihat masih muda, ia menaruh secangkir espresso di meja, penampilannya sederhana saja. Menggunakan polo shirt, jeans, dan oh right… sendal jepit! Aku memperhatikannya dibalik kacamataku yang menatap layar laptop. Dia sendiri sibuk dengan ipod-nya. Tapi kemudian ia mendongak, “Hey..” Sapaannya memancingku untuk ikutan mendongak, “Hei juga…” Wah, dia kembali tersenyum, sambil menyodorkan tangannya.

“Gue Niki..” aku menyambut tangannya, “Aislinn..” aku menjawabnya sambil tersenyum. Dia terlihat sangat ramah. Sungguh!

“Tadi dari luar, gue nggak sengaja ngeliat layar laptop lo, kaya ada sesuatu yang bakal gue suka, deh. Do you mind if I know?” Wah, dia memperhatikan layar laptopku sejak di luar tadi? Aku menggeser laptopku agar bisa dilihat olehnya. Aku memang sedang merencanakan pembangunan sebuah sekolah. Tapi uniknya, sekolah ini adalah sekolah khusus anak – anak jalanan. Jadi, free of charge, malahan anak – anak ini akan dibimbing untuk mendapat pekerjaan yang jauh lebih baik daripada sekedar menunggu rasa kasihan dari orang. Aku menjelaskan visi dan misiku kepadanya. Benar, ternyata ia benar – benar menyimak setiap penjelasanku dan terasa antusiasmenya.

“Jarang, lho, ada cewek cantik yang ternyata isi otaknya mikirin nasib mirisnya anak – anak jalanan di Jakarta ini..” katanya setelah aku selesai menerangkan proyekku ini. Aku hanya cengo mendengar reaksinya. Aku benar – benar nggak tau harus menjawabnya dengan kalimat apa. Alhasil, aku cuma bisa diam sambil nyengir aneh.

“Aislinn.. Gue..” baru saja ia akan mengatakan pikirannya, aku sudah memotongnya, “Ash.. just call me, Ash” koreksiku.

“Ash, gue ini sarjana manajemen nirlaba. Manajemen yang urusannya buat yayasan – yayasan sosial, yang tujuan utamanya bukan buat profit… dan gue akan sangat senang sekali, kalo lo mengijinkan gue untuk boleh gabung sama lo merealisasikan proyek ini…” Niki menatap mataku saat mengatakan hal ini. Aku terdiam, lagi – lagi lidahku tak bisa bergerak. Melihatku tak merespon, Niki jadi salah tingkah, “Tapi gue.. Gue nggak maksa kok, Ash. Apalagi, kan, kita baru kenal..” Aku menggeleng cepat. Tentu aja aku mau dibantuin!

“Gue dapet kehormatan kalo seorang sarjana Manajemen Nirlaba mau jadi partner gue di proyek ini!” jawabku excited sambil tersenyum. Hari itu, aku sangat amat mensyukuri turunnya hujan!

Hari – hari setelahnya, aku malahan semakin dekat dengan Niki. Ternyata selain membantuku untuk proyek besar ini, Niki juga seorang pria yang luar biasa. Perlahan tapi pasti, aku jatuh cinta. Niki adalah seseorang yang peduli sosial. Aku mendapatkan partner untuk membicarakan soal politik, kemiskinan, dan kejamnya kehidupan. Caranya memandang kehidupan ini terkadang tampak seperti skeptis, yang mana pasti akan selalu aku cela, tapi sebenarnya Niki bukan skeptis dan negative thinking pada kehidupan, dia hanya sangat realistis. Tak jarang, ia menyindirku yang cenderung positif thinking menghadapi kehidupan.

Sore ini, aku janjian dengan Niki untuk mengumpulkan satu kelompok anak – anak jalanan di daerah Pasar Rebo. Aku sengaja tak membawa mobilku dan malah memilih untuk naik angkutan umum. Niki memang tetap membawa mobilnya lalu memarkirkannya di rumah sakit dekat situ. Di tangan kirinya, ia membawa kantong plastik hitam yang kuyakini adalah nasi padang bungkus pesananku untuk anak – anak jalanan. Niki tadi memaksaku untuk membawakannya, mengingat aku akan repot sekali jika harus membawa 50 bungkus nasi padanng dengan bis umum. Aku segera menghampirinya, lalu membantu Niki untuk membagikan nasi bungkus itu.

Sambil anak – anak itu makan, aku menjelaskan bahwa mereka diminta untuk datang ke sebuah rumah yang tidak jauh dari tempat itu, untuk belajar, lalu mendapat makan siang. Adalah sebuah ide brilian dari Niki, bahwa kita harus “mengumpani” anak – anak jalanan dengan makanan agar mereka mau datang belajar ke sekolah singgah itu. Anak – anak jalanan itu pun berjanji akan datang pada Senin minggu depan.

Seusai acara itu, aku dan Niki pergi ke rumah yang akan dijadikan sekolah singgah. Kami memeriksa perlengkapan yang sekiranya akan dibutuhkan dalam pengajaran minggu depan. Guru yang akan mengajar anak – anak jalanan itu adalah mahasiswa yang sukarela mengajar dan sudah dibuatkan jadwalnya. Mekanisme ini pun lagi – lagi terkordinir dengan baik berkat Niki.

Baru saja, aku dan Niki mengunci pintu rumah, BRESSSHH, hujan seperti tumpah dari langit mengguyur bumi. Aku menghela nafas, maklum, aku memang tidak menyukai hujan. Lain hal dengan Niki. Ia tersenyum lebar, melihat hujan yang kelewat lebat. Bahagia sekali kelihatannya.

“Ash, yuk! Main ujan, yuk, temenin gue!” ajak Niki. Ia memegang jemariku -yang sebenarnya membuat diriku seperti tersengat ribuan volt- tapi aku menggeleng. Aku jujur, “Gue nggak suka hujan, Nik..”

“Kenapa? Main hujan itu asik, lho! Yaudah, gue main hujan sendiri..” Niki tersenyum padaku.

Aku senang melihat Niki terlihat begitu bahagia karena hujan. Padahal aku tau, beban pekerjaannya jauh lebih berat dari aku. Tapi ketika melihatnya hujan – hujanan, dia terlihat begitu lepas, tanpa beban, bebas.

Hujan mulai reda, Niki mengajakku segera pulang. Aku gantian memaksa Niki untuk menyetir mobilnya ke apartemenku. Dia lagi kedinginan, nggak mungkin bisa konsentrasi nyetir mobil. Sampai di apartemenku, dia langsung merebahkan diri di sofa panjang kegemarannya, selagi aku mengambil kaos yang mungkin muat untuknya. Kusempatkan menyeduh teh hangat untuk Niki.

Setelah menghabiskan tehnya dan berganti pakaian, ternyata Niki tertidur di sofaku. Hari memang sudah gelap, aku jadi nggak tega membangunkannya, apalagi di luar hujan kembali lebat. Jangan – jangan malah nanti dia balik main hujan lagi. Kubiarkan Niki tidur, lalu aku menyelimutinya. Hari ini, kembali aku sangat mensyukuri hujan lebat yang lagi – lagi kulewati bersama Niki.

Sebulan setelahnya…

Hari ini mendung. Niki mengajakku pergi ke monas. Katanya, ia sudah lama sekali tidak pergi. Aku awalnya enggan, tapi melihat tatapan mautnya, toh, aku luluh dan mengikuti kemauannya. Ia memacu mobilnya dan benar saja, hujan lebat turun!

Niki keluar, sudah pasti main hujan. Aku tidak mau mengikutinya. Niki menghampiriku dalam mobil, menggenggam tanganku, dan memohonku untuk menemaninya hujan-hujanan. Sungguh aku menolak, tapi karena sengatan kulitnya pada tubuhku ditambah tatapannya yang maut, untukku, aku lagi – lagi mengikuti kemauan Niki.

Dinginnya air sigap menerpa tubuhku yang hangat. Aku langsung menggigil, Niki tertawa melihatku. Tapi ada yang tidak biasa dari Niki, ia menggenggam kedua tanganku, lalu menatap mataku dalam – dalam.

“Ash.. Aku nggak tau alasan kamu benci hujan. Tapi kamu harus tau, awalnya aku juga benci banget sama hujan kaya kamu. Sampai pada suatu hari, hujan mengantarku kepada sesuatu… Sesuatu yang sangat mengikat aku..” Niki menatapku semakin lekat, “Kamu. Aku jatuh cinta ke kamu dari hari pertama kita ketemu dan kamu membeberkan proyekmu dan mengijinkan aku bergabung. Kamu mengijinkan aku masuk ke hidupmu. Hari itu adalah hari pertamaku mencintai hujan..”

Aku terkesima. Lidahku lagi – lagi kelu. Aku hanya bisa tersenyum lalu mengecup bibir Niki dengan lembut, lalu nyengir aneh, “Aku juga memutuskan untuk sangat mencintai hujan..” Niki terdiam, lalu nyengir boyish dan memelukku.

Hari ini, aku resmi mencintaimu, hujan…


cerpen ini dimuat dalam novel Kisah Hujan

note: Tokoh Niki dalam cerpen ini terinspirasi dari seseorang yang terlalu realistis yang saya kenal, yang sangat menyukai hujan, yang berkaitan langsung dengan kesenangan main hujan (yang nggak pernah saya mengerti alasannya)

Dia yang selalu menjadi inspirasi saya dalam melayani masyarakat kecil dan memberikan tindakan nyata untuk dunia yang kejam ini.

King of My Heart

Kepada: Jodohku di masa depan

Hai, sayangku..

Ketika aku nulis surat ini, umurku masih 20 tahun dan aku masih dalam tahap menuju kematangan wanita dewasa.

Aku menunggu datangnya momentum ketika kamu menemukanku. Lama banget yah kita terpisah, kasihan kamu selama ini hidup kekurangan tulang rusuk.. Maaf ya sayang, aku emang pecicilan tapi kuharap tulang rusukmu yang ada pada tubuhku baik – baik saja. Aku harap ketika kamu menemukanku, aku dalam keadaan yang prima yang tidak mengecewakanmu.

Aku menanti saat – saat kita akan bertemu di Gereja dan mengucap janji setia. Aku mau memakai gaun pengantin yang indah sekali dan aku ingin kamu benar – benar pangling saat melihatku dengan gaun itu. Aku terbayang, saat mengucap janji setia di depan altar, aku pasti akan meneteskan air mata, aku ingin ketika kamu membuka kerudungku, kamu mengusap air mataku lalu mencium keningku. Wah, itu bener – bener indah, sayang.

Kamu tau, sayang? Ini isi doaku sejak aku berumur 16 tahun.. Doaku untuk kamu..

“Ya Tuhan, jagailah jodohku, laki laki yang menjadi suamiku. Berikan dia kesehatan, berkat dan rejeki, serta umur yang panjang. Jauhkan dia dari segala yang jahat. Bimbinglah dia, agar dia juga merupakan hambaMu yang setia. Aku mencintainya, ya Tuhan”

Bahkan di saat aku belum mengenalmu, aku sudah mencintaimu dan mendoakanmu, sayang. Jadi, aku jamin aku akan menjadi istri yang baik untukmu.

Sayang, aku memang bukan wanita yang romantis, aku nggak mempan digombalin kata – kata yang manis, dan tiap kali kamu mencoba berbicara romantis, yang ada malah aku ketawain. Tetapi aku tahu, pasti kamu tahu persis bagaimana membuatku tersentuh dan terharu.

Aku paham, pasti kamu jengkel dengan sikapku yang suka seenaknya, cerewet, dan moody. Tapi sayang, di dalam hatiku aku benar – benar mencintaimu dan memuja kamu seluruh jiwa dan raga. (Sungguh! Ini bukan gombalan, sayang.)

Sayang, aku sadar dunia ini begitu kejam. Kita juga pasti lelah menghadapi kekejaman dunia ini. Terkadang aku berpikir, aku nggak mau punya anak, karena aku nggak mau anak – anak kita menderita menghadapi dunia ini. Tapi suatu saat aku mendengar kisah nyata yang menggoyahkan pikiranku. Ada sepasang suami istri yang saling mencintai, mereka nggak mau memiliki anak. Suatu hari sang suami meninggal, si istri tinggalah sndiri tanpa ada yang menemani, dan si istri inipun meninggal karna terlalu sedih dan kesepian. Sayang, entah siapapun yang akan pergi dahulu, pasti akan sangat sepi jika kita nggak punya anak. Aku pikir, punya 2 anak itu sudah cukup sekali. Ya, sayang?

Aku nggak tahu, apakah saat aku menulis surat ini, aku udah mengenalmu atau belum tapi aku mau kamu tahu, sebanyak apapun mantan pacarku, itu nggak berarti aku tak akan setia kepadamu. Aku setia, sangat setia. Memang aku punya banyak mantan pacar, tapi aku hanya akan memiliki satu suami dan aku nggak akan mengenal istilah mantan suami. I swear, i’ll be with you till death separate us.

Kamupun begitu, aku harap kamu tetap baik – baik aja setelah disakiti cewek – cewek menyebalkan yang pernah menjadi pacarmu. Aku sewot? Udah pasti! Entah berapa mantan yang kamu punya. Tapi nggak apa – apa, karena kamu pasti menjadikan aku yang ter-spesial dan terakhir.

Sayang, nanti pasti kita akan bertengkar, apalagi dengan pribadiku yang keras. Tapi sayang, biarkan saja aku marah, tunggulah sejenak amarahku reda, karena nggak mungkin aku bisa marah terlalu lama ke kamu. Kan, kamu tahu sendiri, aku ini orangnya kangenan..

Pasti ada saatnya dimana aku susah diatur, melanggar keinginanmu, tapi aku percaya, kamu pasti sangat mengetahui bagaimana caranya “menaklukkanku” agar mengikuti keputusanmu. Aku memang keras tapi aku bukan kepala batu, kan, sayang..

Aku suka banget sama satu lagu, dan aku hafal tiap detil lagu ini. Aku selalu tersenyum tiap kali ngedenger lagu ini karena aku punya harapan besar akan hidup bahagia bareng kamu.

A brand new day for you and me in this place,

as Husband and Wife

We’ll be holding on ’till we grow old

together, forever and ever

I promise you that I’ll please you

with my endless love and passion

and I would never leave you

This is a journey that would never end

We’ll have our children named Jeremy and Felicia

we’ll have a beautiful house, with a bench and apple tree

I know it sounds too much

but this is a Brand New Day

( Brand New Day – ten 2 five)

Indah sekali kan lagunya, sayang…

Oh iya sayang, aku pengen banget honeymoon kita nanti Eurotrip! Pasti seru banget bisa berpetualang bareng kamu di hari – hari awal kita sebagai suami istri. Wah, setiap kali aku membayangkan semua ini, aku pasti blushing! Hidup di dunia yang kejam ini akan terasa membahagiakan jika sudah hidup bersama orang yang memang sudah ditakdirkan Tuhan untuk bersama. Buatku, hidup yang sangat menyulitkan ini akan terasa ringan jika dihadapi bareng kamu. Aku harap, 8 tahun lagi kita udah ketemu di depan altar ya, sayang. I’ll wait for your presence there in front of me and bring our marriage rings.

Nanti sayang, setelah kita resmi menjadi suami istri, setiap pagi aku akan buatin sarapan buat kamu. Setelah aku bangunin kamu dan kamu selesai mandi, aku udah pilihin kemeja mana yang kamu pakai hari itu Begitu juga untuk celana, dasi, saputangan, kaus kaki, sepatu, dan siapin kacamata kamu. Kita sarapan pagi dan kamu berangkat kerja. Inget sayang, cium keningku sebelum kamu pergi.

Setelah kamu berangkat, aku langsung masak makan siang kamu. Sebelum aku berangkat kerja, aku anter “bekal cinta” untuk suamiku. Bukannya kamu nggak boleh makan di luar sayang, tapi kamu pasti lebih seneng kalo ada yang urusin makanan kamu, jadi nggak pusing harus pesen makan siang lagi, deh.

Aku pulang bekerja sebelum kamu pulang, sayang. Jadi, aku sempat masak untuk makan malam kita. Setelah kita makan malam, mungkin kita nonton TV sebentar, tapi sayang, aku nggak mau ada TV di kamar, yah! Nggak sehat, ah!

Pada akhirnya, kita tidur. Aku nggak perlu bantal guling lagi, sayang! Aku pasti selalu peluk kamu, itu yang akan membawaku ke dalam mimpi yang indah. Di saat hujan, petir yang menggelegar pasti selalu membuatku takut, hanya kamu yang akan menenangkanku. Di malam yang dingin dan gelap, cukup ada kamu maka aku nggak akan merasakan dingin itu lagi, karena kamulah cahayaku.

Saat ini, aku nggak tau kamu ada dimana, sayang. Aku mohon banget, jaga diri kamu baik – baik, sayang. Mungkin malah sekarang kamu lagi down karena disakitin pacarmu, jangan patah semangat, sayang! Aku juga masih berkelana di sini, jadi,kamu harus bersemangat untuk menemukanku! Jangan terlambat makan, tidur yang cukup, nyetir yang aman (jangan lupa pakai seatbelt!), belajar yang rajin, ya sayang. Setiap hari Minggu, jangan pernah lewatkan waktumu untuk ke Gereja. Aku mau suami yang disayang Tuhan, yang menjadi imam untuk keluarga kecil kita.

Dear king of my heart, I always mention you in my pray. God knows how much I love you. Take care of yourself there, because I’m waiting for you to meet me at church. Our destiny is written in the stars, so let’s make our surname same!

Yours truly,

Talita Sakuntala

ps. I’m waiting for you, like forever. But please, come quick :)

akan dimuat pada novel “Surat untuk Jodohku”


Goededag, Agashi (1)

Pagi yang cerah, burung burung tekukur terbang rendah di Dam Square, Amsterdam. Seorang gadis duduk di kursi batu sambil melemparkan remah – remah roti untuk burung – burung itu. Lucu, ketika mereka berebut remah – remah yang bertaburan lalu semakin lama mengerubungi si gadis.

Matahari bersinar cerah pagi itu, langit yang sangat indah, biru seperti ingin diselami dan hangatnya sinar matahri memberi keceriaan bagi pecinta musim panas. Masih bulan Juni, zommer – musim panas- baru tiba, sehingga angin dingin masih sering berhembus.

Kriiinnngg… kriiiinngg…

Telepon genggam gadis itu berbunyi. Gadis itu segera meraih telepon genggamnya yg ia selipkan di saku celananya. Ia melirik sedikit ke layar telepon genggamnya.

“Ooh.. Udah harus pergi, nih! Tot zo, Vogelen!” (sampai nanti, burung – burung) ujar gadis itu lalu mengikat plastik bungkus rotinya. Ia bergegas berjalan menuju halte tram. Disimaknya layar jadwal kedatangan tram. 5 menit lagi tram pilihannya akan tiba.

“Goedemorgen, meneer!” (Slamat pagi, Pak!) ujar si gadis begitu pintu tram dibuka dan Ia melangkah masuk.

“Goedemorgen!” (slamat pagi) dijawab sang kondektur dengan senyum hangat.

Ramah, begitulah polah masyarakat Belanda pada umumnya. Tidak ada sama sekali kerasisan, bahkan mereka cenderung sangat ramah terutama pada orang Indonesia. Masih terbersit perasaan kagum bahwa ternyata orang londo -begitu kita menyebutnya- bahkan lebih ramah dari bangsa Indonesia sendiri yang terkenal ramahnya. Namun perbedaannya, di Indonesia keramahan tak selalu diikuti kebaikan, karena begitu banyak tindak kejahatan yang menggunakan kedok keramah – tamahan masyarakat Indonesia. Berbeda seperti di Indonesia, masyarakat Belanda memang benar – benar ramah dengan tulus. Salah satunya ya, seperti kebiasaan menyapa orang lain.

Gadis itu sampai di halte tujuannya, namun Ia masih harus berjalan kaki sekitar 15 menit untuk bisa sampai di tempat tujuannya. Saint Paris Kerk. Salah satu gereja di Amsterdam yang mayoritas umatnya adalah orang orang Afrika. Namun karena gereja tersebut mengadakan English service dan atmosfer kekeluargaan komunitas tersebut membuat gadis itu mau bersusah payah setiap minggu untuk datang.

“Here you are, Agashi!” seseorang bersuara berat berbicara yang membuat gadis itu menoleh ke belakang.

“Ahh, Goedemiddag, Jansen! and I will really glad if you call my name without Dutch pronounciation. It’s heard bloody funny in my ears actually..” gurau si gadis yang namanya adalah Agashi.

Menurut prononsi Indonesia, kita tetap menggilnya Agashi dengan biasa, tapi dalam prononsi Belanda, kata Agashi akan terdengar menjadi Ahkhashi yang bila didengar sangat lucu.

Jansen adalah teman pertama Agashi di gereja itu. Ia adalah seorang asli Belanda yang selalu menemani Agashi di setiap ibadah.

“So, where are we going after church?” kata Jansen sambil merangkulkan tangannya di pundak Agashi.

“How if we look for a secondhand bicycle for me in waterloopplein?”

**************************************

Waterloopplein terkenal sebagai tempat menjual barang – barang bekas yang masih layak pakai. Bermacam perabot, pernak pernik, elektronik bekas dapat kita beli dengan harga yang sangat miring serta kualitas yang masih baik. Jangan salah, meskipun barang bekas namun tentu kita bisa memilah barang mana yang masih layak pakai dan bahkan menawar harganya. Tentu cukup menggembirakan bagi orang yang memiliki banyak kebutuhan namun kekurangan dana untuk membelinya.

Selesai beribadah, Agashi dan Jansen mengambil tram menuju waterloopplein. Masih di cuaca cerah di awal musim panas Belanda, angin dingin berhembus meniup rambut panjang Agashi yang terurai. Di bawah terpaan sinar matahari yang kuning keemasan, dan angin yang berhembus, Jansen lagi – lagi menyaksikan keanggunan gadis Asia di depannya itu. Agashi merapikan rambutnya yang sempat terkibar tak beraturan akibat angin, namun tangannya terhenti saat Ia tersadar Jansen sedang melihatnya lekat – lekat.

“Wat is er?” (ada apa?) Agashi memiringkan sedikit kepalanya, lalu memeriksa baju terusan musim panasnya kalau – kalau tadi ikut tersibak. Tapi ternyata tidak ada apa – apa.

“Jansen, wat is er? Don’t see me that way!” Jansen tersadar, langsung menggeleng – gelengkan kepalanya dengan cepat.

“Nothing, Agashi.. Suddenly, I saw a summer Goddess. Nothing personal..” Jansen segera menarik tangan Agashi dan mengajaknya ke penjual sepeda loak.

Kios pertama yang menarik perhatian Agashi adalah kios sepeda ontel yang menaruh beberapa sepeda berjajar di sekeliling pohon. Meskipun catnya sudah banyak yang terkelupas dan agak berkarat, Agashi tetap berniat untuk membeli sepeda itu lalu mendandaninya. Namun tidak menurut Jansen. Menurut Jansen, ketimbang mendandani ulang sepeda itu, lebih baik membeli yang baru lalu melengkapinya dengan gembok yang super bagus.

“Ya tapi, kalo beli baru, aku nggak punya budget tambahan buat beli gemboknya!” gerutu Agashi ketika tangannya ditarik oleh Jansen untuk berpindah ke kios lain.

Menurut Jansen, sepeda yang sudah berkarat dan bannya sudah tipis sangat berbahaya untuk digunakan. Pertama, siapa yang tahu kapan besi besi berkarat itu akan keropos? Sangat mengkhawatirkan. Kedua, Agashi harus memperhitungkan uang yang akan keluar untuk mengganti dengan ban yang baru. Sangat merepotkan. Ketiga, siapa yang bisa menjamin bahwa kawat kawat remnya masih bisa dipertahankan untuk waktu yang cukup lama? Sangat membahayakan. Keempat, harga sepedanya terlalu mahal untuk ukuran sepeda bekas berkarat yang terlihat kurang menarik (sebenarnya Jansen ingin menyebut rongsokan, tapi kurang enak bila didengar Agashi).

Tapi menurut Agashi, alasan terakhirlah yang sebenarnya memicu munculnya alasan pertama, kedua, dan ketiga. Orang Belanda itu sangat hemat dan cermat dalam mempergunakan uang mereka. Bukan pelit! Sungguh, bukan! Tapi sangat cermat dan perhitungan.

“Tapi, Jan, aku bener bener butuh sepeda buat ke kampus. Maksudmu, aku jalan setiap hari dengan begitu banyak buku di punggungku dan project papers di tanganku. Huh! Tega sekali, kau!” Agashi dan Jansen sekarang tengah berteduh di bawah tenda penjual patat – sebutan untuk kentang goreng di Belanda- sambil meneguk jus pisang yang dibawanya dari rumah. Hasilnya masih nihil. Agashi bahkan nggak punya ancang ancang akan membeli sepeda yang mana bahkan setelah mendatangi 5 kios sepeda. Itu semua berkat Jansen karena setiap sepeda pasti memiliki cela dan jika Agashi sudah terlalu ngotot, Jansen langsung menariknya.

“Kamu pakai sepedaku saja! End of discussion!” cetus Jansen lalu mengucek rambut Agashi yang kontan mendapat tepisan halus dari Agashi.

“Nggak, ah! Bukannya sepedamu itu yang model cowok? Yang bener aja! Aku nggak bisa! Lagipula aku kepingin membuat sepedaku terlihat unik!” Agashi terang memprotes. Sepeda Jansen itu sepeda laki laki, yang membuat wanita sulit menggunakannya karena ada besi terpatri tinggi di depan tempat duduk dan jika dinaiki, berarti ada besi yang melintang diantara paha. Sudah bisa membayangkan? Ah, ini fotonya.

Tentu untuk kaum perempuan, apalagi bagi yang suka mengenakan rok, tidak dapat dibayangkan harus bagaimana posisi mereka saat mengendarainya. Sangat merepotkan dan “membahayakan”.

Jansen tersenyum, “Aku ada sepeda lain yang bisa dipakai perempuan, nanti ke dormku, ya? Pasti kamu suka,” Agashi tersenyum mendengar perkataan Jansen. Sahabat barunya ini memang selalu memiliki kejutan.

(to be continued)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.