Matahari begitu terik siang ini, anak – anak itu tertawa riang sambil melambaikan tangannya padaku. Sejenak, mereka kutarik dari dunia nyata yang bernama realita, namun sayang sudah saatnya mereka kembali.
Aku memasukkan buku – buku yang sudah tertumpuk rapi di mejaku ke dalam rak bertuliskan ‘Bahasa Indonesia’. Kulirik jam di dinding menunjukan pukul 12.50. Niki belum datang, dia terlambat entah kenapa, padahal katanya mau bertemu anak – anak sebentar.
Sembari menunggu Niki, kunyalakan laptopku. Menurut agenda, besok kami akan memulai pelajaran praktek bercocok tanam. Berarti, besok, Niki dan anak – anak akan berkotor ria dengan tanah dan pupuk. Membayangkannya saja hatiku terasa nyaman. Inilah duniaku. Tidak sempurna tapi mampu membuatku bahagia. Apakah sebenarnya arti kebahagiaan? Itu relatif bagi setiap insan.
Tak lama, Niki sampai di depan rumah. Segera kuhampiri ia yang kerepotan mengangkat karung – karung.
“Kok telat, sayang?” tanyaku sambil membawakan kantongan plastik hitam yang isinya adalah pot – pot plastik dan beberapa pak polybag.
Niki tersenyum, ia mencium keningku lembut, “Aku tadi mampir dulu di nursery beli perlengkapan ngajar besok..” Aku tersenyum. Niki adalah lelaki yang kupuja setengah mati, yang sangat sempurna di mataku. Aku tahu ia sangat kerepotan mengangkat karung – karung yang ternyata berisi tanah itu, tapi dia tak mengijinkanku membantunya sama sekali.
Begitu Niki selesai dengan kerepotannya, aku sudah siap dengan secangkir cappuccino di tanganku yang membuat Niki tersenyum sumringah. Ah, senyumannya itu bahkan hingga kini tetap membuat jantungku berdebar tidak karuan.
Begitu Niki duduk selonjor di atas tikar, aku segera menyusulnya. Kupijiti perlahan lengan dan bahunya agar ia merasa nyaman. Niki tertawa, “Haha, Ash, kamu emang ahli telepati paling jago sedunia!” Aku ikut tertawa mendengar perkataannya itu. Niki mengubah posisinya menjadi tengkurap, agar lebih mudah kupijiti.
“Kamu tadi ditanyain anak – anak, Nik.. Apalagi Melati. Dia masih keukeh mau jadi rival aku! Hahaha..” Aku mulai bercerita pada Niki tentang kelas hari ini. Anak – anak yang sedari tadi kuceritakan adalah anak – anak jalanan di perempatan lampu merah daerah Pasar Rebo. Usia mereka beragam, antara 6 – 15 tahun. Mereka datang ke rumah ini setiap hari dari pukul 9 pagi hingga pukul 12 siang.
Bukan perkara mudah mengajak mereka datang untuk belajar kemari. Pasalnya, anak – anak ini kesehariannya mengamen dari bis ke bis. Sudah pasti menjadi sebuah masalah buat mereka, jika menghabiskan 3 jam sehari tanpa menghasilkan uang. Tapi Niki cerdik. Niki yang memiliki ide, untuk membawa anak – anak jalanan itu datang ke rumah ini, kita harus memberikan imbalan yang setimpal. Apakah itu? Sebungkus makan siang untuk mereka.
Sudah delapan bulan, aku, Niki dan beberapa teman – teman mengajar anak – anak jalanan itu. Rumah ini sendiri adalah rumah yang aku sewa sebagai tempat untuk kegiatan belajar mengajar. Anak – anak jalanan itu sudah sangat familiar dengan rumah singgah ini, terutama denganku dan Niki. Delapan bulan ini kulewati bersama Niki. Ah, jika kuingat dari hari pertama aku bertemu dengannya, hal – hal menakjubkan tak pernah berhenti menghiasi setiap hari dalam hidupku.
Niki tengkurap sambil kupijiti, tapi lama kelamaan, celotehnya tak lagi kudengar. Niki kenapa? Kuhentikan pijatan tanganku pada punggungnya, agar bisa melihat wajah Niki. Ya Tuhan.. Niki tertidur. Wajahnya yang tampan itu terlihat tenang sekali, membuat hatiku terasa damai.
Kurebahkan tubuhku di sisi Niki, menyamping. Aku ingin memandanginya sampai mimpi menjemputku.
* * * * *
“Kak Niki, mana lagi pupuknya?” teriak seorang anak laki – laki yang pipinya terdapat noda berwarna coklat. Niki-ku masih sibuk mengajari seorang anak perempuan kecil caranya menanam biji cabai pada sebuah kantong polybag. Niki sepertinya nggak mendengar permintaan anak lelaki kecil itu.
“Kak Niki, pupuknya, Kaaakk!!” teriak anak lelaki tadi. Namanya Damar. Giginya ompong di depan, lucu sekali, terutama ketika ia berteriak. Niki masih saja mengacuhkan permintaan Damar karena masih asyik mengajari seorang anak perempuan. Aku diam, penasaran akan yang terjadi setelah Damar kehilangan kesabarannya.
“Kak NIKII!!” jerit Damar. Niki menoleh, tapi.. PUKK! Wajah Niki dilempar sebongkah tanah oleh Damar. Aku terbelalak. Wah, sepertinya akan ada pertempuran.
Benar saja, Niki segera membuat bongkahan tanah lain lalu, “PERAAAANGGG!!” seru Niki. Ia melemparkan sebongkah tanah. Huaa, anak – anak yang lain segera menyusul ulah Niki. Perang lempar tanah dimulai. Rusuh sekali dan ribut karena semua orang saling berteriak keseruan.
Perlahan aku menyelamatkan diriku dari kekacauan perang itu. Aku nggak mau ikut – ikutan kotor seperti mereka. Tapi tiba – tiba, ada yang memeluk tubuhku dari belakang.
“Anak – anak! Ada yang melarikan diri, nih! Serang!!” perintah Niki yang kini memeluk tubuhku erat. Anak – anak segera melempariku dengan tanah, aku melepaskan diri dari pelukan Niki dan ikut bertarung.
Ketika hari sudah benar – benar siang, kami semua duduk kelelahan di teras belakang. Niki yang sedari tadi sudah duduk back to back denganku, tiba – tiba berdiri.
“Kakak mau nanya.. Siapa yang suka pelajaran bercocok tanam kita hari ini?” tanya Niki dengan senyumannya yang khas.
“Aku, aku!!” sahut anak – anak itu menjerit sambil mengacungkan telunjuk mereka. Hebat, tadi mereka terlihat sangat kelelahan, tau – tau kembali enerjik lagi! Niki tertawa melihat antusiasme anak – anak itu.
“Nah, kalo suka, pasti tau dong, apa tujuan kita belajar bercocok tanam?” tanya Niki lagi sambil mengulum senyumnya. SIING, sunyi senyap, anak – anak itu serentak memasang mimik serius, berpikir keras. Kira – kira, apa tujuan kita bercocok tanam?
Seorang anak perempuan, namanya Melati, mengacungkan telunjuknya, “Supaya nanti, kalo Melati udah nikah sama kak Niki, Melati bisa tanem wortel yang kak Niki selalu makan!” celotehnya. Aku cengo dengan sukses. Anak – anak yang lain spontan menyoraki Melati yang kelewat narsis. Niki tertawa melihat ekspresiku yang nelangsa maksimal.
“Jangan dengerin Melati, kak Aislinn! Kak Niki, ‘kan, nanti nikah sama kak Aislinn!” jerit Umar, salah satu teman sepantaran Damar. Anak – anak yang lain juga menyetujui perkataan Umar dengan menganggukkan kepala mereka. Aku hanya nyengir pasrah. Sulit memang kalau punya kekasih yang tampannya melebihi batas toleransi seperti Niki.
“Hei, udah, udah. Ayo, dong! Apa tujuannya kita bercocok tanam hari ini? Masa lupa, sih?” Niki kembali bertanya, mengembalikan pembicaraan yang sempat melenceng. Anak – anak kembali tertegun. Sumi, seorang remaja perempuan yang juga ikut belajar mengacungkan telunjuknya.
“Supaya kita bisa tanem cabe juga, trus nanti cabenya dijual di pasar. Harga cabe ‘kan lagi mahal, pasti untungnya banyak, nih, temen – temen!” kata Sumi. Ah, Sumi memang pintar dan berpengetahuan lumayan diantara anak – anak jalanan seumurannya. Niki mengangguk sambil tersenyum.
“Sumi bener! Tapi, kakak masih punya satu tujuan lagi, loh! Tebak, dong!” tantang Niki lagi. Kali ini semuanya nggak ada yang mengacungkan telunjuknya. Niki menoleh padaku, ah, ternyata ini saatnya aku yang ambil alih menjelaskan semuanya pada mereka.
“Coba siapa disini yang ngerasa kulitnya kaya disetrika setiap siang?” tanyaku. Aku sengaja menggunakan kata “disetrika” supaya terdengar lebih ekstrim namun menarik minat mereka. Semua anak mengacungkan telunjuk. Aku tertawa. Niki juga mengacungkan telunjuknya, ia sekarang duduk di bawah kakiku, sambil memasang wajah polos yang sangat menggoda untuk kucubit pipinya.
“Kalian udah pernah Kak Myrna ajarin soal pemanasan Global, kan? Nah, kulit kalian itu tambah gosong, soalnya Bumi kita, nih, payungnya udah bocor. Bayangin, deh, kalo lagi ujan, terus kalian pakai payung yang bocor, pasti kena tetesan ujan dari bolongan di payungnya, kan?” Niki tersenyum mendengar kalimat – kalimatku barusan. Menurut Niki, aku selalu pintar menggunakan analogi yang disukai anak – anak.
Aku melanjutkan penjelasanku, “Nah, bumi kita juga punya payung. Payungnya itu bukan buat hujan. Tapi buat panasnya Matahari. Hmm, gara – gara payungnya bocor, panasnya Matahari jadi bisa nembus celah – celah bocornya, deh! Akhirnya, kulit kak Aislinn juga ikutan gosong, nih!” kataku sambil manyun. Anak – anak tertawa melihat ekspresi manyunku. Niki? Niki hanya memandangiku dalam diam sambil tersenyum.
“Hayo, siapa yang tau, gimana caranya kita mengurangi pemanasan global, alias kebocoran payung?” kali ini aku mau anak – anak untuk berpikir. Mengingat kembali pelajaran yang pernah mereka terima dari Myrna, seorang mahasiswi jurusan Bioteknologi yang secara sukarela ikut membantu di rumah singgah ini.
Anak – anak masih berpikir, sampai akhirnya aku melihat ada bohlam menyala di atas kepala Melati. Oh, tidak. Jangan – jangan akan dia hubungkan dengan Niki-ku lagi! Aku mencoba untuk tersenyum senatural mungkin, lalu menganggukkan kepalaku untuk mempersilahkannya menjawab pertanyaanku.
“Kak Aislinn, kata kak Myrna, kita harus tanam banyak pohon sama siram banyak pohon. Supaya Mataharinya nggak jahat lagi..”Ah, Melati.. Anak perempuan ini dibalik kenarsisannya yang kelewatan, tersimpan otak yang cerdas. Aku menggangguk setuju sambil tersenyum.
“Melati bener! Kita harus tanam banyak pohon, lalu menyiram pohonnya dengan rajin. Nanti lama – kelamaan, bolong di payungnya berkurang!” kataku excited lalu melirik Niki. Kini gilirannya.
“Jadi, itu udah kakak siapin. Setiap anak membawa satu kantong plastik. Isinya tanah, pupuk, polybag dan biji cabe. Boleh ditanam disini, boleh dibawa pulang. Tapi yang pasti, itu sebagai modal kamu untuk jualan cabe di pasar, yah!” kata Niki riang. Anak – anak segera berhamburan mengambil jatah kantong plastik mereka masing – masing lalu pamit pergi. Sudah waktunya mereka kembali ke realita.
Seusai merapikan kekacauan di teras belakang rumah singgah itu, Niki mengantarku kembali ke apartemen. Katanya, sudah lama sekali dia nggak tidur di sofa panjangku saking sibuknya dengan pekerjaannya di yayasan sosial miliknya.
Niki-ku ini adalah anak dari seorang billionaire yang masuk dalam daftar orang kaya di Indonesia. Tapi itulah keunikan Niki. Ia tidak mau meneruskan perusahaan ayahnya dan malah membuat yayasan sosial yang tujuannya menyejahterakan orang – orang miskin dan terlantar. Salah satunya, ya, rumah singgah ini. Dulu, pertemuanku dengan Niki juga karena aku ini sedang membuat proposal sponsor untuk membuat rumah singgah anak – anak jalanan. Aku bertemu Niki tanpa rencana. Malahan jadi rekan kerja sekaligus kekasihnya.
“Ash..” panggilnya begitu merebahkan diri ke atas sofa panjang favoritnya di apartemenku. Aku menoleh pada Niki, matanya sudah sayu. Sepertinya dia kelelahan. Aku membawakannya secangkir jasmine tea untuk diminum agar membuatnya lebih rileks.
“Minggu depan, ajak anak – anak ke taman mini, yuk! Banyak yang bisa kita ajarin ke mereka disana!” itu kalimat terakhir Niki sebelum akhirnya Ia jatuh tertidur.
* * * * *
Hari yang telah direncanakan Niki pun tiba. Hari ini, aku, Niki, dan anak – anak rumah singgah akan study tour ke Taman Mini Indonesia Indah.
Niki menyewa sebuah mobil elf yang mampu mengangkut 12 orang. Yang paling mengejutkan, Niki-lah yang menyetir! Ah, lelakiku ini. Dia memang sangat bersinar di mataku. Hatinya begitu tulus!
Sampai di sana, Niki mengajak berkeliling melihat berbagai rumah adat di Taman Mini. Masih cukup terawat, meskipun pengunjung rumah – rumah adat itu cenderung sepi. Sesekali, Niki menghentikan mobilnya dan membiarkan anak – anak memenuhi rasa ingin tahunya melihat salah satu rumah adat.
Hari sudah semakin siang, stamina anak – anak pun sudah berkurang, aku mengajak mereka untuk piknik di taman Indonesia. Tahu, nggak?
Taman Indonesia itu sebenarnya taman biasa. Tapi yang membuatnya spesial adalah karena taman itu dibuat menyerupai wilayah Indonesia. Dipisahkan oleh air danau. Ada pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papun, Nusa Tenggara, Bali, Lombok, ah, pokoknya semua pulau! Hebat sekali, ya? Anak – anak terpukau.
“Taman Mini ini sebenernya ngajarin anak – anak banyak banget, ya, sayang..” kata Niki padaku begitu anak – anak malah memilih untuk menjelajahi pulau – pulau buatan itu dibandingkan menyantap makan siang mereka.
“Iya, sayang. Anak – anak bisa belajar keanekaragaman Indonesia. Belajar artinya menerima perbedaan, belajar buat ngerti, kalo di dunia ini nggak ada yang bisa seragam. Pasti ada aja yang bikin beda. Ya, kan? Banyak orang Indonesia yang udah lupa soal itu, Nik.. Udah jadi tugas kita, sebagai orang waras, untuk mengajari anak – anak kecil kembali kepada Bhinneka Tunggal Ika, Nik..” kataku. Mataku menerawang. Memang, sungguh nggak adil melihat banyaknya perpecahan yang dikarenakan perbedaan. Kemanakah toleransi?
Niki mengelus rambutku, lalu mengecup keningku perlahan, “Kamu tau, Ash? Bagian dari dirimu yang itu, yang bikin aku jatuh cinta setengah mati sama kamu.. Kamu itu sama warasnya sama aku.. Satu – satunya wanita yang sepikiran sama aku..” Niki nyengir setelah mengatakan hal itu. Aku tertawa simpul. Benar, aku dan Niki memang selalu sepemikiran. Niki meniup peluitnya, pertanda meminta semua anak untuk kembali ke tempat berkumpul.
Tak lama, semua anak sudah lengkap. Aku langsung membagikan makan siang mereka. Aku dan Niki asyik saling senderan, sambil melihat keceriaan anak – anak ini bersenda gurau. Aku lalu membuka pembicaraan.
“Siapa di sini yang punya musuh?” tanyaku. Semua anak terdiam sambil memandangiku dengan bingung.
“Siapa di sini yang punya sahabat?” tanyaku lagi. Kali ini mereka kompak mengantakan, “AKUU, KAKK!!” Niki tertawa.
“Oh, punya semua, ya..” kataku. Aku menarik nafas, lalu mulai bercerita, “Ada sepasang sahabat. Mereka mirip banget! Suka warna hijau, suka menyiram bunga, suka makan tempe, suka nyanyi. Pokoknya banyak banget kesukaannya yang sama..”
“Dua orang sahabat ini selalu membangga – banggakan ke orang lain, kalo mereka itu mirip banget!” kataku. Wajah anak – anak ini, termasuk Niki-ku menatapku penuh rasa penasaran.
“Tapi suatu hari, ada seorang cowok ganteng, mengajak keduanya berkenalan. Nah, coba tebak apa yang terjadi?” tanyaku. Sumi langsung mengacungkan telunjuknya. Aku mempersilahkannya menjawab.
“Dua orang sahabat itu suka sama cowo yang sama, kak!” Aku tersenyum mendengar jawaban itu. Aku menggeleng. Anak – anak itu terperangah.
“Mereka bertengkar karena cowok itu, sayang..” kataku lagi. Anak – anak semakin bingung, sambil bertanya – tanya. Niki tersenyum padaku, sepertinya Ia sudah tau apa maksudku.
“Cewek yang satu, sukaaa banget sama si cowok. Dia jatuh cinta! Sedangkan, cewek satunya, benciiii banget sama si cowok. Dia muak banget! Dua orang sahabat ini bertengkar. Kenapa?” Ah, wajah anak – anak ini sungguh kebingungan.
“Karena yang satu mau pacaran sama si cowok, sedangkan yang satunya lagi musuhan. Kedua sahabat ini bertengkar karena si cowok ini. Menurut kalian, harusnya mereka gimana?” Aku ingin membuat mereka mengerti apa maksudku. Sungguh. Sumi lagi – lagi mengacungkan telunjuknya. Aku membiarkannya menjawab.
“Harusnya saling ngertiin, ya, Kak? Namanya juga sahabatan! Harusnya ngejaga perasaan sahabatnya, ya, Kak? Yang suka, jangan berlebihan. Yang benci, agak dikurangin. Gitu, ya, Kak?” tanya Sumi. Aku menganggukan kepalaku. Anak – anak kompak ber-Ooh ria tanda mereka mengerti. Aku tersenyum. Senang sekali bisa mengajari anak – anak yang masih murni pikirannya.
“Nah, saling pengertian itu namanya toleransi, sayang. To-le-ran-si!” Aku mengeja kata toleransi untuk mereka. Niki mengelus kepalaku, ia tersenyum sangat manis.
“Tadi kita udah liat banyak banget rumah adat, kan? Ada Batak, Minang, Kalimantan Selatan, NTT, dan wuaahh! Banyak banget, kan? Itu beda – beda banget, kan?” Anak – anak ini kompak mengangguk tanda setuju dengan kata – kataku.
“Kalian harus inget cerita kak Aislinn hari ini sampai kapanpun. Setiap orang, pasti punya perbedaan! Apalagi di Indonesia, wah, banyak banget perbedaannya! Nah, kalian pasti tau dong, apa yang harus kalian kerjakan ketika menemukan perbedaan?” tanyaku. Anak – anak mengangguk lagi.
“Toleransi, Kaaakk!!” Mereka kompak menjawab pertanyaanku. Air mataku jatuh. Aku terharu melihat mereka. Seandainya saja, semua orang semudah ini diajari untuk toleransi. Niki mengusap pipiku, lalu mengambil alih pembicaraan.
“Nah, kan. Kak Aislinn sampe nangis terharu karena kalian pinter – pinter. Ayo! Serbu kak Aislinn! Cium pipinyaaaa!!!” WAH! Gerombolan anak – anak langsung menyerbu untuk menciumi pipiku. Aku tertawa geli sampai berkata ampun dan diselamatkan Niki, barulah serangan ciuman itu berakhir.
“Ada satu lagi, anak – anak!” kata Niki begitu mengamankan pasukan ciuman kembali ke posisi semula. Melati langsung menyahutinya.
“Apa itu, kak Niki ganteng?” Melati melemparkan gombalan, yang sungguh mencengangkan. Astaga! Dia menggoda pacarku!
“Dalam toleransi, kita juga harus menghargai perbedaan yang dimiliki orang lain. Teruuuss, kita juga harus menghargai apa yang kita punya. Seperti ilmu, sahabat, kesopanan.. Ngerti, ngaak?” tanya Niki dengan mimik yang jenaka. Anak – anak tertawa geli melihatnya.
“Ngerti, kak Niki!” jawab mereka serentak. Kemudian Niki mengajak mereka berbenah, lalu masuk dalam mobil.
Dalam perjalanan pulang, anak – anak tertidur. Sepertinya kelelahan. Aku dan Niki memutuskan untuk mengantar mereka pulang.
“Ash..” panggil Niki lembut sambil menggenggam jemari kananku. Aku menoleh.
“Makasih, yah.. Udah hadir dalam kehidupanku..” kata Niki lagi. Aku tersenyum, mengelus lembut pipinya. Aku nggak ingin mengatakan apapun.
“Sejak ada kamu, aku mengerti bahwa di dunia yang jahat ini, tetap ada kebahagiaan. Kamu yang mengajakku masuk dalam kebahagiaan..” Niki termenung menatap jalanan. Aku tersenyum.
“Buat aku, hidup kaya gini udah sempurna. Mendidik anak – anak. Bersama kamu.” Mendengar perkataanku, Niki tersenyum bahagia sambil menoleh padaku, matanya dan mataku bertemu. Dari ditu terpancar kebahagiaan murni yang tidak bisa dideskripsikan. Ya, Tuhan.. Terima kasih atas lelaki yang Kau kirimkan ke hidupku ini. Dia luar biasa!
Setelah mengantar anak – anak pulang ke rumahnya -mereka tinggal di perkampungan kumuh, dalam rumah kardus, yang hampir saja membuatku menangis nggak karuan- Niki mengajakku ke monas. Sangat jauh, tapi aku menurutinya. Ia sudah menjadi kekasih paling luar biasa seumur hidupku, nggak bisa kutolak permintaannya. Apalagi dengan tatapannya yang membuat jantungku seakan mau lompat.
Niki mengajakku untuk merebahkan diri di atas rerumputan hijau, di bawah pohon yang rindang. Menikmati suasana ini. Tapi tak lama, Niki beranjak duduk.
“Ash, nih ada muffin!” Niki memberiku sebuah muffin chocolate dengan taburan chocco chips di atasnya. Sangat menggoda untuk dicicipi. Tapi sebenarnya, pikiranku tergelitik.
“Dari mana muffinnya?” tanyaku. Niki menelan ludah. Dia menggaruk – garuk rambutnya. Aku hapal gelagatnya, ini pasti kegugupannya.
“Aku yang.. buat..” jawabnya polos. Aku cengo dengan sukses. Hanya itu reaksi terbaik untuk mengekspresikan keherananku. Niki bikin muffin?
“Udah, buruan makan!” kata Niki singkat, lalu mendorong jemariku yang menggenggam muffin ke mulutku. Aku menggigit muffin itu. Hmm, rasanya lumayan enak. Aku menggigitnya sekali lagi. Hmm, rasanya enak!
“Enak, Nik!” sahutku. Niki hanya mengangguk – anggukkan kepalanya, sampai akhirnya..
“Uhuk.. uhukk, uhuk, uhukk..” Aku terbatuk. Hampir saja tersedak. Seperti ada sesuatu yang keras yang hampir saja tertelan olehku. Agak kotor memang, tapi toh harus kulepeh ‘benda keras’ yang membuatku tersedak. Niki melihatku dengan tatapan prihatin sambil mengelus – elus punggungku.
“Muffinmu ada ranjaunya!” kataku sewot. Tapi begitu kulihat dalam genggamanku apa sebenarnya benda keras itu, ternyata.. sebuah cincin!
“Niki…” panggilku lirih. Jadi, ini maksud Niki membuatkanku muffin. Niki tersenyum. Ia mengambil cincin tersebut dari genggamanku lalu menyematkannya pada jari manis kiriku.
“I wanna grow old with you.. Having dozen kids, teach them the best and then spent the rest of my life only with you..”
Niki menciumku.
Hidup memang tidak tertebak, tapi pasti sempurna bagi setiap manusia. Sempurna, jika kita mau melihat dari sisi positif kehidupan ini dan optimis menghadapi hari depan. Bagiku, hidupku sempurna!
Cerpen ini diikutsertakan dalam lomba cerpen #iCare – @nulisbuku yang berhadiah iPad. Semoga karya ini bisa menang yah.. I’m going to give the iPad to my father. He needs it. (Karya ini adalah lanjutan dari cerpen terdahulu yang berjudul This Rain belongs to Us- read it first if you curious..)